Apakah Anda Sudah Cukup Dewasa untuk Kuliah?

ini adalah salah satu copas dari pak Lukito Edi Nugroho, lecture of UGM..

keren banget buat kita-kita yang lagi kuliah ni.. dibaca ya, jangan lupa di comment.. heheh… selamat membaca…

Tadi siang saya ngobrol dengan pak Suharyanto (PPJ Akademik JTETI), salah satunya tentang fenomena yang menurut saya cukup serius. Dalam evaluasi kinerja studi mahasiswa yg dilakukan jurusan beberapa semester ini, muncul sederetan mahasiswa yang bermasalah akademik. Cukup banyak jumlahnya. Dari tidak aktif mendaftar kuliah, IP yang nol koma, sampai ke “menghilangnya” mahasiswa tanpa pemberitahuan apapun. Tentu banyak hal yang menjadi penyebabnya, tapi ada satu yang membuat kami prihatin.Dari investigasi terhadap masalah-masalah yang dihadapi mahasiswa itu, ada beberapa masalah yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Ada mahasiswa yang semacam “mutung” karena punya persoalan dengan temannya. Ada yang sekedar malas kuliah tanpa ada alasan yang jelas. Ada juga yang terlalu asyik dengan kegiatan lain di luar akademik, sehingga lupa dengan tugas utamanya. Sayangnya lagi, tidak semua masalah tsb dikomunikasikan kepada orang tua/wali, sehingga mereka tidak tahu apa yg dialami oleh putra-putrinya. Pada saat jurusan memberitahukan kondisi mahasiswa, tentu saja mereka kaget karena sebelumnya tidak ada berita apapun. Yang ingin saya soroti dlm tulisan ini adalah bahwa banyak mahasiswa yang bermasalah karena kurang siap memasuki masa perkuliahan, apa lagi jika jauh dari orang tua. Menjadi mahasiswa berarti menjadi orang dewasa.

Sebagai orang dewasa, ia harus mampu memilih mana yang benar dan mana yang tidak, juga mengatur prioritas hidupnya. Sering kali mahasiswa dihadapkan pada situasi yang nyaman tetapi itu melenakan. Tawaran kerja part time misalnya, sering menghanyutkan karena mahasiswa bisa memperoleh uang sendiri. Mahasiswa harus bisa membentengi dari godaan-godaan yang melenakan tersebut. Mahasiswa juga harus memiliki mental yang kuat. Ia hidup dalam dunia nyata di mana tidak selalu dunia mengikuti apa yang diinginkannya. Dimarahi dosen, berkonflik dengan teman, atau berbagai bentuk penolakan (rejection) dan perlakuan yang tidak baik (mistreatment) dari lingkungannya harus bisa dihadapi dengan mental yang kokoh. Bagi mahasiswa dari daerah di luar Jawa, kuliah di Yogya juga memunculkan tantangan tersendiri. Anda harus membiasakan diri dengan tradisi, kebiasaan, dan atmosfer baru yang mungkin tidak cocok dengan kebiasaan asli anda. Kematangan pribadi sangat diperlukan untuk bisa menyikapi kondisi ini dengan baik.

Yang tidak kalah penting, mahasiswa harus bisa mengelola masalahnya. Janganlah sampai “kalah perang” dan menyerah kepada masalah yg dihadapi. Dalam dunia nyata, anda bisa mengalami emosi tingkat tinggi, stress, rasa sakit hati, atau kehilangan semangat dan motivasi. Bagaimana mengelola semua ini merupakan ketrampilan yang harus dikuasai jika ingin survive. Komunikasi menjadi sesuatu yang penting, dan orang tua/wali adalah pihak pertama yang perlu tahu tentang permasalahan yang dihadapi. Bukan hanya karena mereka yang membiayai kuliah anda, tetapi karena anda adalah tanggung jawab mereka sebagai orang tua.

Lebih jauh lagi, anda adalah harapan masa depan bagi mereka. Cobalah bayangkan perasaan orang tua jika tiba-tiba mereka menerima surat peringatan karena prestasi anda yang membahayakan keberlanjutan studi anda. Satu hal lagi. Sepertinya banyak problem akademik yang bisa dicegah jika mahasiswa mengikuti berbagai petunjuk akademik yang ada. Mengambil mata kuliah misalnya. Peletakan mata kuliah pada semester-semester tertentu sudah dirancang agar mahasiswa bisa belajar secara optimal.

Jadi janganlah berimprovisasi terlalu ekstrim, misalnya baru semester 3 sudah mengambil kuliah pilihan semester lanjut. Jangan juga membuat aturan sendiri, misalnya kalau saatnya KRS, ya KRSlah. Jangan coba-coba mengambil kuliah tanpa memilihnya lewat prosedur KRS yang benar. Kalau sudah saatnya ujian, perhatikan jadwal ujian baik-baik. Jangan minta ujian susulan karena salah jadwal. Dan masih banyak contoh lain yang menunjukkan ketidakpatuhan pada sistem yang berlaku. Pengabaian terhadap sistem hanya akan merugikan diri sendiri. Hari ini memang saya agak gemes. Penyebabnya bukan karena harus memikirkan kasus-kasus mahasiswa yang bermasalah, tapi lebih pada rasa eman-eman karena masalah-masalah itu sebenarnya tidak perlu terjadi atau bisa dicegah sebelumnya.

Jadi para mahasiswa, jadilah orang dewasa yang sebenar-benarnya. Jika tidak berlatih dari sekarang, kapan lagi? Bagi para orang tua yang membaca catatan ini, saya juga mohon bantuannya untuk kadang-kadang berkomunikasi dengan putra-putrinya tentang kemajuan belajarnya. Banyak bibit masalah yang bisa dideteksi secara dini, dan kita bisa mencegahnya bersama-sama.

5 thoughts on “Apakah Anda Sudah Cukup Dewasa untuk Kuliah?

  1. sempulur says:

    Mungkin karena mereka sudah merasa dirinya dewasa shg lebih memilih kebebasan daripada harus bertanggung jawab kepada tujuannya. Dan yang lebih memprihatinkan lagi kalau sudah merasa dirinya paling pintar sebagai sebuah kesombongan karena ketidaksadaran mereka akan apa yang akan mereka hadapi setelah lulus nantinya.

    • ikhwanluthfi says:

      setuju mas….
      sebaiknya, setiap mahasiswa, termasuk saya, harus berpikir lebih rasional dan lebih berpikir maju ke depan.
      tidak hanya itu, setiap mahasiswa, juga harus berpikiran bahwa orang tua melepaskan kita ke universitas bukan utk bermain tapi untuk belajar dan juga berorganisasi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s