JANGAN BERPALING DARI BECAKKU!!! (Part2)

ORIGINALLY POSTED on IFIART

Tiba-tiba, seorang gadis kecil, kira-kira berumur 12 tahun, menepuk pundakku.

“bang, ke amplas bang,” seru adek itu mengagetkanku. “Dua puluh ribu ya dek,” jawabku memberitahu tarif perjalanan menuju ambaromo plaza yang disingkat amplaz oleh orang-orang jogja. Kurasa tarif yang kutawarkan pada gadis kecil ini sudah pas dan setara dengan capeknya kakiku harus mengayuh pedal becak ke mall yang terbesar di jogja itu.

“Dua puluh ribu mas? Gak bisa kurang lagi tu mas?” tawar gadis itu padaku.
“wah, gak bisa neng. Udah pas itu neng,” jawabku pada gadis yang sepertinya dari keluarga kalangan berPunya itu. Baju yang ia kenakan cukup punya Nama di negri ini. Sebenarnya aku bisa saja menawarkan tarif yang lebih mahal padanya dan aku yakin gadis itu mampu membayarnya. Tapi aku tidak serakus itu. Aku tak seperti penarik becak lainnya yang akan mematok tarif lebih tinggi dari harga biasanya jika yang naik itu adalah orang-orang yang berkulit Putih ato berpenampilan seperti orang berPunya.
“Oke deh mas, tarik mas!”seru gadis itu sambil meloncat naik ke atas becakku. “Pelan-pelan neng,” ucapku mengingatkan gadis itu. “Oh iya mas, maaf… Maaf… Maklum, ini pertama kalinya saya naik becak,” ucap gadis itu sambil mencari-cari sesuatu di kursi becakku. “Kenapa neng? Ada yang hilang? Ato ada yang ketinggalan?” tanyaku pada gadis yang masih saja mencari-cari sesuatu di atas kursi becakku. “Savety belt nya mana ya mas?” tanya anak itu padaku. “Savety belt? Apa itu neng?” tanyaku sambil kebingungan. “Itu loh mas, ikat pinggang yang diikatkan ke dada sebelum kita berpergian,” jawab gadis itu penuh keluguan. “Waduh neng, dibecak ini gak ada neng. Mungkin di tempat lain neng nemuin tu ikat pinggang,” jawabku dengan muka penuh tanda tanya diselimuti tanda seru. “O gtu ya mas…”

Tanpa banyak basa-basi dan tak mau menunggu pertanyaan aneh dari gadis ini, aku segera kayuh becakku menuju amplaz.

Sebelumnya, aku juga sudah menduga gadis ini belum pernah naik becak. Terlihat jelas dari gaya berpakaiannya yang terlihat eksklusif.
Dan dalam perjalanan menuju amplaz, aku bertanya-tanya pada gadis itu. Dan akhirnya aku menemukan jawaban pasti mengapa gadis manis ini lebih memilih naik becak ketimbang naik taksi. Ternyata Risha bosan dengan kehidupan di keluarganya. Selama ini dia dididik dengan aturan-aturan yang kadang membuat dia jenuh dengan kekangan berbagai aturan yang menjebak dan tidak memberikan ruang kebebasan pada gadis secantik dan semanis dia. Aku hanya bisa tertawa dalam hati mendengar cerita dari risha. Bagaimana bisa, sewaktu makan saja, masih saja ada aturan. Sungguh membosankan pastinya. Haha.. Kadang aku bersyukur menjadi orang sederhana yang makan seadanya, tidak memikirkan berbagai aturan yang mengekang kebebasan, dan tidak perlu berputar dalam hidup yang membosankan. Lebih jauh lagi, aku hanya merasa kasihan pada para orang kaya diluar sana. Mereka berorientasi pada uang, kerja, makan, tidur, uang, kerja, makan dan tidur. Pernahkah mereka terbesit untuk membuka lembar demi lembar perjalanan hidup mereka dan melihat kembali apakah mereka pernah menghadapkan diri dan bercengkrama denganNya? Hidup itu hanya mengenai cara kita berjalan di untaian benang waktu. Kalo kita goyah dan tak seimbang, kita bkal jatuh dari untaian dan mati. Hanya Dia yang bisa membantu kita untuk tetap terus seimbang di atas untaian.

“eh mas… Mas.. Udah nyampe mas!” seru risha menyadarkanku dari lamunan panjangku. “Oh ya.. Maaf neng…”

Kuhentikan becakku dan risha pun turun. “Mas, jemput risha disini ya sekitar jam 2 an.”
Aku hanya bisa mengiyakan dan menjemputnya lagi jam 2 nanti.

Kukayuh becakku hingga akhirnya….

(bersambung)

2 thoughts on “JANGAN BERPALING DARI BECAKKU!!! (Part2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s