Coffe Cafe

ORIGINALLY POSTED on IFIART

Khayalku pun terasa liar seketika kumemasuki gedung tua ini. Sumpek dan semakin sesak saja rasanya kota Jogja ini. Seperti sesaknya dadaku yang selalu bermain dengan hirup pikuk aliran carbon dioksida di perkotaan ini.

Seingatku, aku pernah ke sini. Ke gedung tua ini.

O ya, aku lupa memberi tahu kalian semua. Namaku Fika. Seorang mahasiswi sarjana S2 UGM, Teknik Elektro yang “LUMAYAN” cantik dan smart (katanya). Lumayan… memang.. hahaha…

Kini aku sedang sibuk di Viagra, sebuah organisasi potret memotret di Fakultas Teknik UGM. Mungkin ini lah yang membuat aku menjadi seorang gadis yang sedikit liar. Karna hampir setiap jepretan dari lensaku, seakan memberi tahu bahwa hidup memang liar, kawan…. Hahaha….

Aku ingat hunian-hunian ini pernah kulewati, tapi sekarang nampaknya berbeda. Pelukis yang berada di pojok kafe itu tidak lagi muda. Dulu, waktu aku berdiri di sini, dia selalu menatap mataku tajam. Tapi sayang, usia memang membunuh segalanya. Kini, dia hanya seorang renta yang bahkan tak bisa mengepalkan tangannya dan melayangkanya ke pipiku, persis seperti apa yang ia lakukan 4 tahun yang lalu. Kini dia hanya bisa tersenyum memandang paras cantikku. Aku yakin dia pasti tak mengenalku lagi. Dia pasti sudah lupa….

Sekarang, aku berdiri lebih dekat daripada yang dulu. Dia melihatku, tapi dia tidak tersenyum. Matanya sudah tidak seawas dulu lagi. Rasa ini seakan teraduk sudah antara rasa nyaman dan resah gundah gulana. Nyaman karena aku mengetahui diriku belum serenta dia. Aku masih kuat, aku masih sehat, mataku masih bisa melihat kumpulan warna dari indahnya goresan kuas tangan sang pencipta alam.

Mataku terbang melayang mencari tempat yang bisa untuk ku duduki.

Yap, sepertinya disini nyaman. Kutarik sebuah kursi tua dan kududuki. Awalnya kuragu karna reyotnya kursi ini. Tapi tak apa lah. Aku ingin duduk disini saja. Ya….. nampaknya di sini lebih tenang, bahkan aku bisa dengan leluasa memandang ke sekelilingku. Mengamati tajamnya mata-mata yang mengawasiku. Tapi aku lebih leluasa dari pada mereka. Mereka belum tentu bisa mengawasi aku dengan leluasa seperti aku mengawasi mereka.

Hari pun semakin panas. Tapi aku sudah terbiasa dengan aroma kehidupan seperti ini. Hilir mudik kota jogja yang begitu rapat, sesak dan panas sudah biasa kudapati. Pemandangan ini sudah biasa aku lihat sehari-hari, dimana mata manusia menatapku sinis dan terkadang kagum dengan kecantikanku. Kadang mereka tidak suka bila aku mengambil sedikit jepretan dari tangan emasku ini. Mata sinis mereka telah menggambarkan bahwa mereka benar-benar tidak suka dengan keberadaanku, terutama kameraku.. entah kenapa….

Aku suka dengan udara yang panas, makanya aku betah berlama-lama duduk di kafe ini. Tak ada satupun AC terpajang di sekitar sini, sesuai sekali dengan kepanasan hatiku yang sering meluap seperti lahar panas yang dimuntahkan oleh mulut sang ratu Merapi. Hasil Jepretanku memang selalu panas. Orang-orang itu selalu memberi opini pedas terhadap hasil jepretanku. Entah kenapa….

Tahu apa mereka tentang seni memotret…?  kurasa yang mereka tahu hanyalah kuas, pewarna dan papan lukis. Karna itulah dunia mereka. Dan inilah duniaku, Viagra.  Terkadang, aku selalu merasa iba pada mereka yang tidak pernah bisa melepaskan ledakan-ledakan dalam hatinya. Padahal, itu terkadang dapat melegakan kesumpekan yang terjadi pada jiwa yang gelisah.

Biar saja aku begini. Biar saja aku berteman dengan rerumputan dan ilalang di sekitarku. Mereka selalu setia menjadi objek potretanku. Kalau saja ada yang tidak setuju dengan jalan pikiranku, itu boleh-boleh saja. Silahkan….

Aku tidak akan pusing dengan semua ini. Hanya malaikat kematian yang mampu menghentikanku dari melukis indahnya goresan tangan tuhan lewat lensaku ini. Biarkan aku berekspresi dengan caraku. Bukan caramu….

“Clik… clik… clik… clik….”

Suara jepretan dari kamera yang kugenggam ini pun berbunyi. Aku sangat mencintai tempat ini. Padahal ini hanya lah Kedai Kopi yang disulap dengan sedikit penambahan fasilitas “MELUKIS GRATIS”.

Hanya deretan orang tua yang telah ‘berumur’ yang aku dapatkan disini. Tapi aku senang disini. Walaupun yang kudapati hanyalah tatapan sinis dari para orang tua yang berharap mendapat ketenangan tanpa ada gangguan saat meneguk secangkir kopi yang ia pesan.

Walaupun deraan dan cobaan ini selalu kudapati saat aku ke sini. Tapi inilah aku… aku berpikir dengan caraku. Aku nyaman berada disini. Dan aku bersengaja datang ke tempat ini. Karna disini penuh dengan mereka.

Ya… mereka….  para orang tua yang tak berdaya. Mereka seakan memberi gambaran padaku mengenai ayahku yang ada di ‘SANA’. Di tempat yang menurutku bakal memberi kebahagiaan lebih pada ayahku…

Dialah sosok yang tangguh dan selalu memikirkan nasib anaknya. Dan ini lah caraku mengingatnya : buka pintu, duduk, pesan kopi, dan menatap indahnya paras-paras orang tua yang terdiam lesu tak berdaya.

Teruskan saja meneguk kopimu itu kek, jangan hiraukan aku. Aku akan tetap duduk disini, kau tidak akan menemukan kesulitan dalam mencariku. Kau pasti ingin menatapku dengan tatapan sinismu kan?? Aku dengan lapang dada menerimanya. Karena tatapanmu seakan mengingatkanku pada tatapan ayahku, seorang yang luar biasa membesarkanku hingga sampai saat ini….

Ayah, aku ada disana yah…  disana, di dalam dadamu. Ada sebuah ruangan sempit tak berwarna, tak bercahaya, dan tak juga wangi. Aku ada di belahan jiwa, sisi lain yang tak pernah kau sadari. Sisi yang sangat lembab dan dingin, sisi yang sangat peka, sisi abu-abu, tidak putih dan juga tidak hitam.

Gambaran yang cukup unik dan sedikit galau. Galau?? Hahah.. mungkin iya… hidup sebagai seorang mahasiswa memang penuh kegalauan.

Hmmmm…. mungkin jika aku bisa melukis dan mengumpamakan diriku, aku akan mendedikasikan diriku seperti buah durian. Ya, mungkin lebih tepatnya aku seperti buah durian. Yap… yap… buah durian, tepat sekali. Kulitnya berduri, susah dikupas, tapi rasanya enakk sekali, itupun kalau kau beruntung. Sebagian orang menyukai durian, tapi sebagian lagi tidak menyukainya, bahkan terkadang mereka muntah ketika mencium baunya.

Hahah… perumpamaan yang memang menggambarkan diriku secara sempurna…

Durian itu keras kepala, persis seperti aku. Durian itu tidak mau disembunyikan. Walalupun orang-orang menyimpannya di tempat yang paling rahasia sekalipun, tetap saja baunya akan tercium dan membukakan tempat rahasia itu.

Mataku pun tertuju pada seorang pelukis tua yang benar-benar mencurahkan seluruh hidupnya pada kawanan kuas dan cat warna warni. Dia sudah tua. Mungkin sudah sangat amat tua, mungkin sama tuanya dengan ayahku jika saja dia masih ada.

Dia masih saja berkawan dengan jejeran lukisan yang setia menemaninya. Padahal dia sudah sangat renta untuk berada di atas kursi sambil memberikan sedikit tarian pada kuas di atas lantai kertas.

Sayangnya, sekarang lukisannya tidak dijual lagi. Sekalipun ada orang yang mau membelinya dengan harga gila-gilaan, tapi dia tetap tidak mau menjualnya.

Ahhhh…. dasar tua bangka yang keras kepala…

Aku sangat marah padamu… dan kini, bersiaplah menjadi salah satu objek hidup di kameraku ini.

“JEPRETTTT”

Ah…. nampaknya hari sudah semakin gelap. Aku mau pulang dulu ke kosanku. Aku ingin tidur dulu dan bertemu dengan akang mimpi. Aku akan menceritakan pada si akang tentang pertemuanku hari ini. Dia pasti akan sangat senang mendengarnya karena dia memang selalu menjadi pendengar yang baik untukku.

Ku harap, besok saat aku bangun, aku akan bangun lagi dengan segala cerita yang aku temukan dalam mimpiku malam ini. Nanti aku akan ceritakan padamu, kawan…. itu pun kalau kamu mau mendengarkannya. Aku tidak keberatan bila aku yang bercerita dan aku sendiri yang mendengarkannya….

Selamat malam kawan…..

PS : cerita pendek alias cerpen ini kutulis buat ayahku atas perjuangannya membesarkan anak sebandel aku.. hehehe.. i love you daddy….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s