kusebut ini “Berusaha Mencintai”

Cinta? Satu kata penuh makna sayang ku belum punya Cinta? Ya… sekarang aku sedang berusaha mencintainya. Galau, sedih, menangis, semua dicampur dan diaduk dalam panci bernama “Hati”. Jujur aku tak berniat membuat puisi dan tulisan ini bukanlah sebuah puisi. Anggap saja ini sebuah locehan atau kau bisa panggil tulisan ini sebagai curhatan. Tapi tulisan ini kuparafrase menjadi sebuah bait karena aku terlalu malas untuk melihat gerombolan tulisan disatu padu menjadi runtutan paragraf🙂
Sebelum kumulai rasa Cinta ini, kuingin bertanya sesuatu padamu. Pernahkah kau mencintai sesuatu yang tak pernah kau ingin untuk cintai? Atau, pernahkah kau memaksakan diri untuk mencintai sesuatu yang kau benci? Oh maaf, bukan “benci”. Tapi “tak suka”. Pasti pernah bukan? Yupppp…. Itulah yang selama ini aku hadapi, mungkin bisa dikatakan sedang aku alami dan kupendam sampai saat ini. Pasti pikiran kalian sudah mengambang pada seorang gadis bukan? Pasti kalian mengira aku sedang mencintai seorang wanita dan aku galau atasnya. Jujur, ini bukan tentang wanita atau gadis belia yang lagi aku cinta. Tapi ini mengenai perasaan seekor kucing kecil, berwarna kuning, bermata abu-abu. Dan dia termasuk kucing yang tak bisa jauh dari rumahnya. Hahahaha… ngaco lu wan… hahaha. Gini deh, dari pada bahas yang gak jelas alias geje, aku mo ceritain lebih detail tentang si kucing tadi. Jadi, si kucing kecil ini yap, dia kecil sekali. Persis seperti gambar di atas. Jadi kucing kecil ini sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya dan dijauhkan dari kedua orang tuanya di sebuah hutan. Sungguh malang kucing ini bung. Ditinggal sendirian di tengah hutan. Tak tau sama sekali apa yang harus dilakukan hingga akhirnya menapakkan kakinya di tempat yang ia tak cintai. Bingung? PASTI.. PASTI dia bingung. Bingung mo ngapain, bingung mo nyari makan dimana, bingung mo bertamu ke tempat siapa. PASTI BINGUNG!!! Mungkin kalau boleh memilih, kucing kecil ini bakal memilih untuk diterlantarkan di tengah jalan di kota kembang. Atau di kota lain yang ia lebih nyaman dan lebih bersahabat. Sayang, dia tak punya hak sama sekali untuk memilih… Sungguh kasihan nasibmu nak. Setidaknya kehidupan kota lebih menjanjikan baginya ketimbang di tengah kerumunan “hewan-hewan” liar di tengah hutan. Mungkin si kucing bisa saja bersahabat dengan singa wong bentuk mereka sama. Awalnya, mungkin sang singa menampakkan sikap bersahabatnya pada si kucing. Tapi liat saja, taring panjang dan tajamnya bakal keluar dengan segera. Sesaat si kucing menolehkan muka darinya. Malang sekali nasib sang kucing😦 Namanya juga kucing… Maklumi sajalah… Dia hanya bisa mengeong dan terus mengong. Dulu dia boleh punya ribuan teman dan temannya pasti serupa dengannya Tapi kini? Tapi saat ini? Hanya singa yang persis bentuknya dengan rupanya. Mungkin dalam ukuran yang lebih ekstra. Bersahabat dengan singa??? Bisa saja sih. Tergantung apakah singa mau menerima kehadirannya. Pembagian jatah makan? Mungkin bisa.. Wong kucing juga gak bakal makan porsi si singa banyak2 kok. Tapi singa punya taring sangat besar dan siap menerkam si kucing yang malang. Si kucing mungkin bisa saja bertahan satu tahun mungkin bahkan sekarang ia sudah bertahan satu setengah tahun. Kok bisa? Yaaa… namanya juga bertahan? Sukur2 dia masih belum jadi incaran terkaman singa…. Syukur… Ah udah ah dongeng nya… hahahaha…

Nah, gimana dongengnya? seru kan? Seru dari mana wan? Hahaha…. yaaa… kasihan aja tu kucing. Ditempatkan dalam suatu tempat yang ia tidak sukai. Dan ia harus bertahan dalam tekanan, dalam rasa sedih, depresi yang pastinya memuncak. Rasa iri pada binatang-binatang sekitar yang mampu bertahan hidup pastinya lebih lama darinya. Ia pasti bakal sangat sulit beradaptasi di tempat yang ia tak pernah CINTAI Ia pasti menangis dan bahkan pernah berpikir untuk Bunuh Diri.
Meratapi nasib? PASTI ia akan lakukan.
Bertahan hidup? PASTI ia coba.
Tapi sejauh mana??? Yaaaaa…. Siapa yang tau???? Sejauh ini mungkin dia masih bisa bertahan. Tapi jujur, dia bukanlah satu-satunya kucing yang dijatuhkan ke dalam lubang bencana itu. Ternyata dia punya teman. Sayang, kucing yang lain bisa bertahan.. Karena dari awal mereka mencoba untuk bisa berada di tempat se-ekstrim itu. Sang kucing yang malang tak pernah kepikiran untuk menetap bahkan tinggal lama di tempat seGILA itu. GILA? Yap, gila karena disana terdapat puluhan makhluk ajaib. Makhluk yang dari luar terlihat biasa tapi menyimpan ribuan senjata yang pastinya siap membunuh si kucing. Senjata? yaaa senjata untuk bisa bertahan hidup. Taring yang panjang, kuku yang tajam, lidah yang berbisa, sengatan yang mematikan lengkap mereka miliki. Entah bagaimana cara mereka bertahan. Yang pastinya mereka bisa bertahan. Bagaimana dengan si kucing ini? Dia juga bisa bertahan loh. Lebih tepatnya, Dia masih bisa bertahan.

Terus… terus… dan terus mencoba bertahan. Walau jujur dia tak mencintai hutan tersebut. Dia bisa saja bertahan. Tapi, tapi… tapi mungkin dengan daya dan upaya yang lebih besar dari pada kucing yang lainnya. Kenapa??? Yaaaa…. Karena dia tak pernah berpikir dan tak pernah memilih untuk ditempatkan di sana. Mungkinkah dia lebih memilih tempat lain? Tapi apakah tempat lain itu lebih baik dari kondisi hutan tersebut? WHO KNOWS??? Yaaa…. si kucing mungkin sedang bersedih karena harus bertahan dan meratapi nasibnya. Walau dia telah mencoba dan terus mencoba bertahan dengan segala sisa motivasi yang ada. Kini motivasinya hanya secuil, hanya hitungan bulan. Motivator handalnya hanya berada di dekatnya dalam jangka dua tahun. Setelah itu? HILANG… Sungguh malang nasib kucing itu. Motivator siapa lagi yang harus ia cari? tinggal 8 bulan lagi coba…. Berpegang pada sebuah kitab kecil dan alas untuk tempat menundukan kening? Mungkin bisa…. tapi bukan dalam waktu lama. Dia harus segera menemukan motivator yang lebih handal. Lebih handal? lebih tepatnya lebih dekat dan lebih menohok padanya. Hanya secuil persentase harapan hidup yang ia punya, hanya secuil persentase keinginan yang ia berikan untuk menetap di hutan itu. Ia tak pernah berpikir untuk berlama-lama berada di sana. Apalagi berpikir untuk tinggal lama. Kenapa? Yaaa.. karena dia tak pernah berpikir untuk ada disana Dia selalu mengidam-idamkan untuk diletakkan di tempat yang lebih layak. Trus hutan yang ia huni sekarang tidak kah layak untuknya? Layak sih layak… Tapi dia belum seratus persen mencintainya… terus berapa persen? Yaaaa… gak tau deh… Mungkin nol koma lima persen ia baru mencintai hutan itu. Yang pastinya, ia tak pernah mencintai tempat asing itu. Yang sekarang ia bisa lakukan hanya BERTAHAN dan BERUSAHA UNTUK MENCINTAI. Mencintai siapa? Bukan siapa-siapa. Tapi mencintai kondisi dan seluruh keadaan yang ada. Caranya??? I dont know. Si kucing mungkin lebih berhak untuk menjawabnya. Dia hanya belum tau ritme perjalannya, terkadang ia terhenti, terkadang ia berjalan terseyok-seyok, terkadang ia berlari. Berlari dari siapa? Dari kenyataan yang ada.
Karena dia tak pernah suka dengan hutan yang penuh keganasan itu. Banyak hewan liar bermuka manis di dalamnya. Sayang mereka sudah dicap LIAR. So? yaaaa… mereka liar. Ganas, beringas, dan suka makan teman sendiri malah… huh, kasihan sekali sang kucing itu. Mo lari dari hutan? Mo lari kemana coba? dia sudah satu setengah tahun berjalan dan berlari. Dia pun juga di tempatkan di tengah-tengah hutan mending klo di ujung ato di tepi-tepinya. Kemungkinan selamat masih ada. Sayang sekali nasibnya… SO??? GIMANA DONGGGGG????? harus kemana si kucing berlari??? harus kah dia menangis terus-terusan untuk mencintai hal yang tak ia cintai??? harus kah dia meratapi itu selalu? Terus gimana dong? Dia mungkin bisa saja bebas dari hutan itu. Tapi bebas dengan rasa ketidak puasan. Oh tuhan, berikan lah jalan keluar buatnya. Mo berlari ke belakang dan memulai perjalanan di tempat lain? Sudah terlambat pastinya. Sangat terlambat lebih tepatnya. Dia harus mengulangi jalan setapak yang lebih panjang daripada hewan-hewan lainnya. So???? Yang pastinya dia tak punya taring setajam hewan-hewan lain, ia tak punya bisa seperti para ular, ia tak punya kuku setajam singa, ia tak punya SENGAT seperti LEBAH yang ukurannya malah lebih KECIL dari padanya. Adilkah ini? Harus kemana ia sekarang? Berlari? Lari kemana???? Kebelakang dan memulai perjalanan yang baru? Tapi yakinkan jalan kebelakang itu adalah jalan yang paling tepat baginya? Andaikan ia punya taring seperti yang lain mungkin ia masih bisa memamerkannya pada hewan yang lain. Sayangnya TIDAK. Mo berlari ke depan? Tekanan yang ia dapatkan pasti lebih besar? Ribuan mamalia besar siap memangsanya. Mungkin tidak untuk membunuh tapi untuk mematahkan kakinya dan merobek kulitnya. Setengah tahun yang lalu ia berniat membalik arah dan berlari sekencang yang ia bisa tapi ntah apa sebabnya ia malah galau dan tetap ke arah depan, setengah tahun kemudian ia berniat lagi untuk membalik arah dan berlari ke belakang sayang motivator handalnya mengingatkannya. Setengah tahun ini ia semakin galau. Banyak hal yang ia tak sukai muncul menjumpai. Kata menyerah terus datang menghampirinya seakan ingin melekat lama di dalam pikirannya. Seakan kata “jangan bertahan dan lepaskan segera” adalah kalimat yang sangat akrab di telinga dan pikirannya. Tapi kenapa? kenapa ia masih bertahan? untuk siapa? haruskah? Dont know…..

SO???? AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

(The little cat can only scream and try to LOVE what he’s already got now)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s