Shalat seperti Nabi itu indah yaaa

shalat

Klik View Full Article ini bosss🙂 Supaya lebih nampol Ilmunya…


Sifat shalat Nabi 1

Sabda Nabi Muhammad SAW :
Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat (HR. Bukhari-Muslim)

Sifat shalat Nabi 2

1. WUDHU

Tidak akan diterima shalat tanpa bersuci (HR Muslim)

Bersuci ada dua. Dengan air (Wudhu dan Mandi) serta dengan debu (Tayammum)

Tata cara berwudhu :
a. Membaca Bismillah (HR. Abu Dawud, Shahih Ibnu Majah)

b. Mencuci kedua telapak tangan 3 kali (HR. BUkhari Muslim)

c. Berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung sebanyak 3 kali kemudian mengeluarkannya (HR Bukhari-Muslim)

d. Mencuci wajah 3 kali. (HR. BUkhari Muslim)

e. Mencuci tangan kanan sampai siku 3 kali kemduian tangan kiri sampai siku 3 kali (HR Bukhari Muslim)

f. Mengusap kepala dengan mengambil telapak tangan lalu membuangnya lalu mengusap kepala mulai dari batas ujung tumbuh rambut bagian depan sampai tengkuk dan dikembalikan ke depan lagi kemudian langsung mengusap telinga yaitu dengan memasukan jari telunjuk ke lubang telinga dan mengusap bagian luar telinga dengan ibu jari(HR BUkari Muslim)

g. Mencuci kaki dimulai dari kaki kanan dulu sampai kedua mata kaki 3 kali kemudian kaki kiri sampai mata kaki 3 kali (HR Bukhari Muslim)

Pembatal Wudhu :
a. Apa-apa yang keluar dari kemaluan depan dan belakang berupa kotoran atau angin
b. Tidur nyenyak
c. Hilangnya akal karena mabuk atau sakit
d. Menyentuh kemaluan tanpa penghalang dengan dibarengi syahwat
e. Makan daging unta

(Al-Wajiz Fiqhi As Sunnah wa Al Kitabi Al’Aziz hal 36-37)
2. Tayammum
Tayammum dibolehkan jika tidak mampu menggunakan air, baik karena tidak ada air atau sakit, atau jika menggunakan air akan bertambah sakit. Demikian pula jika junub, namun tidak mampu menggunakan air maka tidak mampu menggunakan air maka ia bertayammum tanpa berwudhu. (Al-Wajiz hal 49)
Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh (menyetubuhi) perempuan lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). Sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur (Al-Maidah : 6)

Berkata Abu Ishaq :
“As-Sha’id (dalam ayat di atas) adalah muka bumi, dan Ash-Sha’id tidak harus tanah, akan tetapi muka bumi baik berupa tanah atau bukan, misalnya di gurun/padang pasir.” (Al-Wajiz hal 50)
“Boleh bertayammum dengan menggunakan debu yang ada di dinding, baik dari tanah atau batu, dengan cat atau tidak” (Al-Wajiz hal. 50)

Tata cara Tayammum (HR bukhari-Muslim) :
a. Memukulkan kedua telapak tangan ke muka bumi/dinding (satu kali)

b. Kemudian meniupnya dan mengusapkan ke wajah dan punggung telapak tangan.

Pembatal-pembatal tayammum :
a. Sama dengan pembatal wudhu
b. Menemukan air atau kembali bisa menggunakan air (Al-Wajiz hal 50)

Sifat shalat Nabi 3

2. Persiapan Shalat

a. Menghadap Kiblat (Ka’bah)
Jika engkau hendak berdiri untuk Shalat maka sempurnakanlah wudhu kemudian menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah (HR. Bukhari-Muslim)
b. Berdiri
Peliharalah shalat-shalatmu dan shalat wustha (ashar) dan berdirilah untuk Allah (dalam Shalatmu) dengan khusyu’ (Al-Baqarah 238)

Diperbolehkan shalat dengan duduk jika sakit atau kesulitan berdiri (HR. Bukhari, Abu Dawud, Ahmad)

— Maka jika dia berdiri maka pahalanya dua kali lipat dibanding jika ia duduk demikian juga dengan shalat diatas kapal atau perahu maka ia boleh duduk apabila ia takut tenggelam.

Diperbolehkan juga shalat sambil duduk di atas perahu (HR. Al Bazzar, Daruquthni)

Jika imam shalat dengan duduk karena sakit maka makmum wajib shalat dengan duduk walaupun mereka bisa berdiri (HR. Bukahari Muslim)
C. Menghadap Sutrah (Pembatas)
Janganlah kalian shalat kecuali dengan menghadap sutrah (HR. Ibnu Khuzaimah dengan sanad jayyid) Hadits yang semakna juga terdapat dalam shahih Bukhari dan muslim.

Sutrah (pembatas) dapat berupa tiang, dinding, punggung orang, tas. Atau apapun yang mempunyai tinggi (minimal) satu hasta (Al-Masjid Al-Islam :78)
d. Niat

Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung niatnya (HR. Bukhari-Muslim)

Niat tempatnya di dalam hati, adapun pengucapan Ushalli fardhal,.. dst maka tidak ada ayat atau hadits yang menerangkan tentang hal ini dan termasuk bid’ah yang sesat dalam agama

Sifat shalat Nabi 4

3. Gerakan shalat

a. Takbir
Jika engkau hendak shalat maka sempurnakanlah wudhu kemudian menghadaplah ke kiblat dan bertakbirlah (HR. Bukhkari-Muslim)

> Tata cara takbir dan mengangkat tangan
– Mengangkat tangan bersamaan ucapan takbir (HR. Bukhari)
– Mengangkat tangan setelah mengucapkan takbir (HR. Bukhari)
– Mengangkat tangan sebelum mengucapkan takbir (HR. Bukhari)
– Beliau mengangkat kedua tangannya dengan (mengangkat jari jemarinya lurus ke atas tidak merenggangkan dan tidak pula menggenggamnya) membuka jari-jarinya lurus ke atas (HR. Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dll)

Beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu (HR. Bukhari)

Beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan telinga (HR. Bukhari)
b. Sedekap
Rasulullah meletakkan tangan kanannya pada lengan tangan kirinya (HR. Bukhari) dan bersedekap di dada (HR. Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah)

Rasulullah meletakkan lengan kanan pada punggung telapak kirinya, pergelangan dan lengan kirinya (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)

Rasulullah terkadang menggenggamkan jari-jari tangan kanannya pada hasta kirinya (HR. Nasa’i dan Daraquthni)

c. Khusyu’
Sewaktu shalat, Rasululllah menundukkan kepala dan memandang ke tempat sujud (HR. Baihaqi dan Hakim)

Pada saat berdiri beliau membaca doa iftitah, ta’awudz, Al Fatihah dengan mensirrkan (tidak mengeraskan) basmalahnya, meskipun shalat itu adalah shalat jahr (yang dikeraskan bacaannya) kemudian beliau membaca Amin. Terkadang juga beliau membaca basmalah dengan mengeraskan bacaannya

Setelah membaca Al-Fatihah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat lain dari Al-Qur’an dengan membaguskan bacaannya

Apabila imam mengeraskan bacaannya maka makmum tidak membaca (diam dan mendengarkan bacaan imam) adapun jika imam tidak mengeraskan bacaannya maka makmum wajib membaca sendiri-sendiri tanpa mengganggu orang lain.

d. Menghilangkan gangguan syetan
Apabila seseorang mendapatkna gangguan syetan dalam shalatnya maka disunnahkan baginya untuk membaca ta’awudz. Kemudian meludah ke sebelah kirinya sebanyak 3 kali (HR. Muslim dan Ahmad)

e. Mendekati sutrah (pembatas)
Diperbolehkan bagi seseorang yang sedang shalat untuk berjalan bila ada keperluan, misalnya membukakan pintu bagi seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membukakan pintu untuk ‘Aisyah padahal beliau sedang shalat (HR. Nasa’i shahih An-Nasa’i : 1151)

Diperbolehkan bagi seseorang untuk berjalan mendekati sutrah (pembatas) agar tidak dilewati sesuatu di depannya.
f. Menghalangi orang melewati Sutrah
Apabila seseorang di antara kalian shalat menghadap sutrah kemudian ada orang yang hendak melanggarnya maka cegahlah semampunya sebanyak dua kali, jika orang itu enggan maka bunuhlah dia karena dia adalah syetan (HR. Bukhari-Muslim)

Lewat di depan orang yang sedang shalat merupakan DOSA BESAR.

Lebih baik baginya menunggu selama 40 tahun daripada lewat di depan orang yang sedang shalat (HR. Bukhari-Muslim)

g. Ruku’
Setelah membaca ayat Al-Quran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti sejenak (HR. Abu Dawud dan Hakim) lalu mengangkat tangan, bertakbir, dan ruku (HR. Bukhari-Muslim)

Beliau meletakkan tangan pada kedua lututnya (HR. Bukhari). Merenggangkan jari-jemarinya (HR. Hakim). Meluruskan punggungnya (HR. Baihaqi). Sehingga apabila air diletakkan di atas punggung beliau air tersebut tidak akan bergerak (HR. Thabarani). Beliau tidak mengongakkan atau menundukkan kepalanya (HR. Abu Dawud dan Bukhari) tetapi tengah-tengah di antara keduanya (HR. Muslim)

Orang yang tidak menyempurnakan ruku’nya merupakan pencuri yang paling jahat, yaitu pencuri dalam shalat (HR. Ibnu Abi Syaibah, Thabarani, hakim)

Sesungguhnya tidak ada shalat bagi orang yang tidak meluruskan punggungnya dalam ruku’ dan sujud (HR Ahmad)

Dianjurkan melamakan ruku’ (HR. Bukhari Muslim) dan dilarang membaca Al-Qur’an sewaktu ruku’ (HR. Muslim)
h. I’tidal
Dianjurkan untuk melamakan i’tidal dan tuma’ninah yaitu sampai ia berdiri dan punggunya lurus.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meluruskan punggung, menegakkan kepala, sampai ruas tulang punggung kembali ke tempat semula (HR. Bukhari-Muslim)

i. Sujud
Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bertakbir untuk sujud (HR. Bukhari-Muslim)
Terkadang beliau mengangkat tangan ketika hendak sujud (HR. Nasa’i, Daruquthni, dll)

Rasulullah mendahulukan kedua tangannya pada saat turun menuju sujud (HR. Ibnu Khuzaimah, Daruquthni, Hakim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud di atas 7 anggota sujud (HR. Bukhari-Muslim)

yaitu kening dan hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut dan jari jemari kaki.

Rasulullah meletakkan tangannya sejajar dengan bahunya (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

Rasulullah terkadang meletakkan tangannya sejajar dengan daun telinganya (HR. Abu Dawud, An Nasa’i)

Rasulullah merapatkan jari-jarinya (HR. Ibnu Khuzaimah, Baihaqi) dan menghadapkannya ke arah kiblat (HR. Baihaqi)

Beliau merapatkan kedua tumitnya (HR. Ath Thahawi, Ibnu Khuzaimah) dan menegakkan telapak kakinya (HR. Baihaqi)

Beliau mengangkat kedua lengannya dan menjauhkannya dari lambungnya sampai warna putih ketiaknya terlihat (HR. Bukhari-Muslim)

Adapun apabila menjadi makmu maka tidak perlu melebarkan kedua lengan sehingga mengganggu orang lain yang berada di samping.

Diwajibkan tum’aninah dalam sujud dan melamakannya serta disunahkan memperbanyak do’a sewaktu sujud (HR Muslim)

Dilarang membaca Al-Qur’an seewaktu sujud (HR. Muslim)
j. Duduk antara dua sujud
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegakkan telapak kaki kanan (HR. Bukhari)

Dan menghadapkan jari-jari kaki ke kiblat (HR. An-Nasa’i)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di atas telapak kakinya (HR. Bukhari)

Terkadang beliau duduk Iq’a (HR. Muslim)

–duduk Iq’a yaitu duduk dengan menegakkan telapak dan tumit ke dua kakinya.
k. Duduk istirahat
Yaitu duduk tatkala berdiri dari sujud. Setelah itu Rasulullah saw melakukan ‘ajn. Yaitu bertumpu kepada kedua tangannya dengan mengepalkan jari jemarinya ke tanah.

Bertumpu pada kedua tangan dengan mengepalkan jari jemari ke tanah atau ‘ajn (An-Nihayah)

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam melakukan ‘ajn dalam shalatnya (HR. Baihaqi dan Abu Ishaq Al-Harbi)

Diperbolehkan juga bagi orang yang shalat untuk cukup bertumpu pada ke dua tangannya tanpa harus mengepalkannya.

l. Tasyahhud Awal
Rasulullah saw duduk tasyahhud awal setelah rakaat ke dua. Apabila shalat yang dilakukan shalat dua rakaat, misalnya shalat subuh, maka beliau saw duduk iftirasy. Yaitu seperti halnya duduk antara dua sujud dan demikian pulalah keadaan duduk tasyahud awal pada shalat-shalat 3 rakaat atau 4 rakaat (HR. Bukhari dan Abu Dawud)

Pada saat tasyahhud awal, Rasulullah saw meletakkan telapak tangan kanan di atas paha kanan (HR. Muslim) dalam riwayat lain lutut kanan.

Dan beliau meletakkan telapak tangan kiri di atas paha kiri (HR. Muslim) dalam riwayat lain lutut kiri.

Beliau mengacungkan telunjuknya ke kiblat (HR. Muslim)

Beliau menggerak-gerakkan jari telunjuknya (HR. Abu Dawud)

Rasulullah mengarahkan pandangan mata ke telunjuk (HR. Muslim)

Ada beberapa cara mengisyaratkan jari :
– Ibu jari memegang jari tengah (HR. Muslim)
– Ibu jari dan jari tengah membentuk bulatan (HR. Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Hibban, dll)

Untuk bacaan tasyahud maka bacaan “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyya warahmatullahi wabarakatuh” hanya dibaca semasa Nabi shallalalahu ‘alaihi wa sallam masih hidup. Adapun setelah beliau wafat, maka para sahabat membaca dengan “Assalaamu ‘alan nabiyya warahmatullahi wabarakatuh” (HR BUkhari-Muslim) dan inilah yang kita baca.

Para sahabat melakukan ini berdasarkan persetujuan dan petunjuk dari Rasulullah saw.

Pada tasyahud awal ini, Dianjurkan untuk membaca Shalawat kepada nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

m. Bangkit ke rakaat berikutnya
Nabi bangkit ke raka’at ke tiga seraya mengucapkan takbir (HR. Bukahri Muslim) dan beliau mengangkat kedua tangannya (HR BUkhari dan Abu Dawud)
Saat bangkit ke rakaat ke empat, beliau saw duduk istirahat, kemudian bertumpu dan bertakbir (HR Bukhari dan Abu Dawud)

Terkadang Nabi saw bangkit ke rakaat ke empat dengan mengangkat kedua tangannya (HR Abu Awanah dan Nasa’i)

n. Tasyahhud Akhir

Pada waktu tasyahhud akhir, Rasulullah saw duduk tawarruk yaitu punggung telapak kaki kiri menempel ke tanah, ujung kiri dan kaki kanan berada pada satu sisi (HR Bukhari)

Dan menjadikan kaki kirinya berada di bawah paha dan betis kaki kanannya. Beliau saw menegakkan telapak kaki kanannya dan terkadang mendatarkannya (HR Muslim)

Adapun Doa tasyahhud dan shalawat untuk tasyahud akhir, sama dengan tasyahhud awal.

o. Salam

Rasulullah saw membaca doa perlindungan dari 4 hal sebelum salam (HR Muslim)

Sebelum salam, dibolehkan untuk membaca do’a yang disukai (HR Bukhari Muslim)

Cara salam Rasulullah saw :
a. Rasulullah berpaling ke kanan sampai terlihat pipi kanan beliau yang putih seraya mengucapkan salam. Kemudian rasulullah berpaling ke kiri sampai terlihat pipi kiri beliau yang putih. Dan mengucapkan salam lagi (HR Muslim)

b. Rasulullah berpaling ke kanan seraya mengucapkan salam dan berpaling ke kiri seraya mengucapkan salam lagi (HR Muslim)

c. Rasulullah berpaling ke kanan seraya mengucapkan salam dan berpaling kekiri mengucapkan salam lagi.

d. Rasulullah menoleh sedikit ke kanan seraya mengucapkan salam.

Sifat shalat Nabi 5

Shalat Jama’ah

Hukum shalat berjamaah untuk shalat 5 waktu di masjid adalah fardhu’ain bagi laki-laki (muslim) yang baligh (dewasa) kecuali karena ada ‘udzur (halangan), seperti :
dingin yang sangat, hujan yang lebat, ingin buang hajat, telah terhidangnya makanan (Al-Wajiz : 138)

Diantara dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya shalat berjamaah adalah :
Allah Ta’ala memerintahkan untuk didirikan shalat Khauf yaitu shalat dalam keadaan perang secara BERJAMA’AH.
Bila dalam keadaan perang tetap diperintahkan untuk berjama’ah maka terlebih lagi dalam keadaan aman, lebih wajib lagi.
Allah Ta’ala memerintahkan kaum muslimin agar mereka ruku bersama orang-orang yang ruku’ sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 43.

Dan dirikan Shalat dan tunaikanlah zakat, dan ruku’ lah bersama orang-orang yang ruku’ (Al-Baqarah : 43)

Kebanyakan para ulama mereka mengambil hukum dengan ayat ini tentang wajibnya shalat berjama’ah sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Ibnu Katsir.
Ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada laki-laki yang tidak menghadiri shalat berjama’ah yaitu beliau akan membakar rumah-rumah mereka (HR. Bukhari-Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan keringanan kepada seorang buta yang masih mendengar suara adzan untuk tidak berjama’ah di masjid padahal dia tidak memiliki penuntun yang membimbingnya ke masjid (HR. Muslim)

Hal ini menunjukkan wajibnya shalat berjama’ah bagi laki-laki.

Adapun wanita, maka shalat di rumah-rumah mereka lebih baik daripada shalat di masjid.

Para wanita diperbolehkan untuk mendatangi shalat jama’ah dengan syarat menutup aurat dan tidak memakai wangi-wangian.
Suami-suami mereka tidak boleh melarang mereka untuk mendatangi masjid jika mereka telah memenuhi syarat-syarat tersebut.

Namun demikian, sebaik-baik tempat shalat bagi wanita adalah di rumahnya.

Berjalan Menuju Masjid

Wajib berjalan menuju masjid dengan tenang, tidak boleh terburu-buru atau berlari-lari.

Tatkala hendak masuk dalam masjid, mendahulukan kaki kanan dan membaca doa.

Adapun keluar dari masjid, maka dahulukan kaki kiri dan baca doa.

Imam Meluruskan shaf (Barisan)

Wajib bagi imam untuk tidak memulai shalatnya, sampai shaf menjadi lurus, baik ia meluruskannya sendiri. Atau ia menyuruh orang lain untuk meluruskan shaf tersebut.

Luruskan shaf-shaf kalian karena lurusnya shaf merupakan bagian dari kesempurnaan Shalat!!! (HR. Bukhari-Muslim)

Lurusnya shaf yaitu dengan menempelkan bahu dan tumit sebagaimana dalam hadist berikut ini.
Berkata Anas : “Salah seorang di antara kami dahulu menempelkan bahu kami dengan bahu orang lain (disampingnya) dan kakinya dengan kaki orang lain (disampingnya)” (HR. Bukhari)

Berkata An Nu’man : “Saya melihat salah seorang di antara kami menempelkan tumitnya dengan tumit orang lain di sampingnya” (HR. Bukhari)
Posisi Makmum

Posisi makmum apabila hanya seorang, maka makmum berada di sebelah kanan imam sejajar dengan imam.

Adapun jika makmum 2 orang atau lebih, maka berdiri di belakang imam.

Adapun jika makmum seorang wanita, maka ia berdiri di belakang imam sebagaimana sebuah hadis sbb :
Bahwasanya Rasulullah saw pernah shalat mengimami Annas dan ibunya/bibinya, maka Annas berkata, “Beliau menempatkan aku di sebelah kanannya dan wanita di belakang kami” (HR. Muslim)

Tidak ada Shalat sunnah setelah Iqamah

Tidak ada Shalat sunnah apabila telah dikumandangkan iqamah. Rasulullah saw telah bersabda, Jika telah dikumandangkan iqamah maka tidak ada shalat selain shalat wajib (HR. Muslim)

Jadi, apabila telah dikumandangkan iqamah, maka wajib bagi seseorang yang sedang melaksanakan shalat sunnah untuk membatalkan shalat sunnahnya walaupun ia hampir selesai karena ada larangannya dari Rasulullah saw tersebut.

Makmum mengikuti gerakan imam

Seorang makmum, wajib baginya untuk mengikuti gerakan imam karena Rasulullah saw telah bersabda, “Hanyalah imam itu dijadikan untuk diikuti, jika ia bertakbir, maka bertakbirlah dan jika ia sujud maka sujudlah” (HR Bukhari-Muslim)

Makmum masbuk langsung mengikuti gerakan imam

Makmum yang masbuk atau terlambat, maka ia bertakbir kemudian langsung mengikuti gerakan imam. Karena Rasullah saw telah bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian mendatangi shalat dan mendapatkan imam dalam suatu keadaan maka lakukanlah seperti apa yang dilakukan imam” (HR. Tirmidzi)

Imam menghadap makmum setelah salam

Setelah salam, Rasulullah saw membaca istigfar sebanyak 3 kali kemudian beliau saw membaca doa. Setelah itu beliau saw membalikan badannya ke arah makmum.

Jika imam batal dalam shalatnya

Jika imam batal, maka makmum yang berada di belakang imam langsung menggantikannya dan meneruskan shalat tanpa mengulangi terlebih dahulu. Oleh karena itu hendaklah makmum di belakang imam adalah orang yang mengerti mengenai ajaran dan sunnah Rasulullah saw sebagaimana sabdanya, “Hendaklah orang yang berada di belakangku adalah yang dewasa dan yang berilmu di antara kalian” (HR. Muslim)

Sifat shalat Nabi 6

Kesalahan yang sering terjadi

Kesalahan pakaian

Ini adalah cara berpakaian yang dilarang dalam shalat yaitu melipat pakaian.

Rasulullah saw melarang untuk menyibak lengan baju dalam shalat (HR. Bukhari – Muslim)

Demikian pula isban (menurunkan pakaian sampai ke bawah mata kaki. Isban hukumnya haram baik dalam shalat ataupun di luar shalat baik dengan sombong atau dengan tidak sombong. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw :

“Apa saja yang berada di bawah mata kaki dari sarung (celana) maka tempatnya di neraka” (HR. Abu Dawud)

 Kesalahan berdiri

Posisi berdiri seperti ini adalah posisi berdiri yang salah. Posisi berdiri seperti ini tidak memungkinkan untuk seorang makmum merapatkan shaf dengan benar karena dapat dipastikan daerah tumit orang tersebut tidak akan menempel dengan daerah tumit orang disampingnya.

Berdiri jauh dari sutrah (Pembatas)

Ini merupakan kesalahan yang banyak terjadi di kalangan kaum muslimin padahal Rasulullah saw telah bersabda, “Janganlah kalian shalat kecuali dengan menghadap sutrah” (HR. Ibnu Khuzaimah dengan sanad jayyid)

Kesalahan takbir

Tangan tidak diangkat secara sempurna atau tangan tidak dihadapkan ke arah kiblat.

Kesalahan sedekap

Tidak meletakan tangan di dada. Baik itu di perut atau di lambung atau bahkan tidak bersedekap sama sekali.

Tidak memandang tempat sujud

sebagian kaum muslimin, tatkala mereka shalat pandangan mata mereka tidak tertuju pada tempat sujud akan tetapi mereka melirik-lirik ke segala arah.

Kesalaha Ruku’

Punggung tidak diluruskan. Tidak sah shalat orang yang tidak meluruskan punggungnya. Adapula orang yang berlebihan dalam ruku’nya. Mereka meletakan tangan mereka di betis mereka.
Di samping itu, kesalahan saat ruku’ adalah meletakan telapak tangan dengan dirapatkan padahal mestinya direnggangkan.

Ada sebagian kaum muslimin tatkala mereka hendak ruku’ mereka tidak mengangkat tangannya. Ini merupakan kesalahan. Karena Rasulullah saw tatkala beliau hendak ruku’ beliau bertakbir dan mengangkat ke dua tangannya.
Kesalahan sujud

Ini adalah kesalahan jari jemari saat sujud. Ada orang yang jari jemarinya dirapatkan akan tetapi tidak di arahkan ke arah kiblat. Atau dia meletakan sikunya ke tanah. Ini semua merupakan kebiasaan-kebiasaan yang tidak sesuai dengan contoh dari Rasulullah saw.

Kesalahan lainnya adalah terlalu rapatnya jarak antara perut dan paha atau mungkin terlalu jauhnya jarak antara perut dan paha. Selain itu posisi tumit yang tidak dirapatkan saat sujud. Atau tidak sempuranya dalam meletakan salah satu diantara 7 anggota sujud. Misalnya hidung atau jari-jari kaki. Serta tidak meletakan telapak tangan rapat ke tanah. Namun telapak tangan diangkat sedikit.
Menyibakkan rambut ketika hendak sujud

Banyak ditemui di sebagian kaum muslim dimana mereka tatkala sujud, mereka menyibakkan rambut mereka. Ini merupakan hal yang dilarang oleh Rasulullah saw.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyibak rambut dalam shalat (HR. Muslim)

Sujud setelah salam

sebagian kaum muslim tatkala mereka setelah salam dan berzikir kemudian mereka melakukan sujud sebanyak satu kali. Ini merupakan perbuatan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw.

SALAH melakukan sujud setelah salam (tanpa sebab)!

Kesalahan duduk di antara dua sujud
Di antara mereka ada yang tidak menegakkan telapak kakinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s