Mulai ngerasa gelar Cumlaude Sarjana S1 mu gak bermanfaat?

joblessTeks di bawah ini adalah saduran lengkap tanpa editan dari soundcloud nya om Deddy Corbuzier. Bagi yang lebih senang mendengarkan dan udah ada akun soundcloud, cek di sini yaa. Dan bagi yang gak punya, monggo dibaca sadurannya berikut ini :

=============================================================

stupid

Hai, This is Deddy Corbuzier in the wisdom thinking.

Saya ingin bicara tentang sekolah. Sekolah yang ada dari dulu hingga sekarang. Tidak semua sekolah tapi kebanyakan sekolah yang ada di semuanya, di semua Negara terutama di Indonesia mungkin. Menurut saya bahwa sekolah itu sebenarnya adalah sebuah tempat dimana bisa merusak kreativitas anak yang belajar di sekolah tersebut. Kreativitas anak sangat amat dibatasi di sekolah kenapa? Mari kita teliti secara perlahan-lahan.

Pertama, kita tahu bahwa kalau seandainya kita memasukan anak kita ke sekolah saat ini, hari ini, maka anak kita akan selesai sekolah sekitar tahun 2031, ya tahun 2031. Anak kita baru sekolah selesai tahun segitu, lulus S1. Nah anda bayangkan bagaimana caranya, bagaimana caranya sebuah institusi seperti sekolah mempersiapkan anak untuk masa depan yang bahkan mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bagaimana perkembangan di masa depan. Apa yang anak itu akan lakukan di masa depan. Tidak ada yang tahu. Tapi sekolah mencoba untuk mempersiapkan seorang anak untuk menghadapi masa depan yang mereka sendiri tidak tahu seperti apa.

Siapa yang tahu bahwa saya akan menjadi seorang mentalist terkenal, siapa yang tahu saya akan menjadi seorang host, siapa yang tahu bahwa ade rei akan menjadi seorang binaragawan yang luar biasa. Siapa yang tahu bahwa Chris John akan menjadi seorang petinju. Yang saya tahu bahwa dulu kita semua dididik matematika, akuntansi. Saya rasa Ade rei tidak pernah dididik untuk menjadi seorang binaragawan. Jadi siapa yang tahu? Siapa yang tahu bahwa tahun 2031 nanti, anda mungkin akan menjadi seorang koki yang luar biasa, terkenal atau penerbang.

Tidak ada yang tahu dan sekolah tidak mempersiapkan untuk hal yang mereka sendiri tidak mungkin tahu. Dan karena mereka tidak tahu, karena sekolah tidak tahu, maka sekolah akan mengajarkan apa yang mereka tahu, yaitu matematika, akuntasi, sejarah, peta buta, bahasa, pelajaran agama dan lain sebagainya. Mereka mempersiapkan kita akan hal-hal yang mereka bisa ajarkan. Kenapa? Karena itu paling mudah untuk diajarkan, kuncinya adalah itu paling mudah untuk diajarkan oleh sekolah. Akhirnya sekolah secara tidak langsung, memberi tahu kita bahwa hal-hal yang tidak diajarkan di sekolah tidak bisa dicapai, dan tidak baik untuk masa depan. Dulu pada saat saya ingin menjadi seorang pesulap, guru saya pun mengatakan “Mau jadi pesulap, aduh, masa depan suram. Mau jadi apa? Pemain basket? Yaaah, jadi pemain basket. Mau jadi apa? Binaragawan? Yah, jadi binaragawan. Harus belajar ini, harus belajar itu. Jangan jadi binaragawan. Tidak bisa. Masa depan suram.” Itu kata-kata mereka dulu. Atau mungkin juga sekarang.

Lucunya adalah bahwa semua sekolah di dunia, memiliki aturan bayangan. Aturan bayangan. Mungkin saya salah. Mungkin tidak seluruhnya. Karena Azka anak saya sekolah di sekolah yang menurut saya cukup baik. Tapi, hampir semua sekolah memiliki aturan bayangan. Apa itu aturan bayangan? Saya juga bingung siapa yang mensepakati aturan bayangan ini. Aturan bayangan menyatakan bahwa. Coba anda bayangkan : Matematika itu lebih penting dibandingkan pejaran sejarah. Coba? Pasti ketika anda di sekolah yang namanya belajar matematika, gurunya dan sebagainya lebih menyeramkan dibandingkan guru pelajaran sejarah. Pelajarannya pun begitu. Pelajaran sejarah lebih penting dibandingkan pelajaran bahasa asing, begitu contohnya. Bahasa asing lebih penting dibandingkan pelajaran seni. Nah seni sendiri dibagi-bagi lagi. Seni music, pasti lebih penting dibandingkan seni lukis di sekolah. Atau itu paradigma yang terjadi. Seni musik, seni lukis, seni tari, dan mungkin sudah berhenti disana. Betul. Gak ada kan seni mematung, gak ada kan disana seni puisi misalnya. Atau seni-seni yang lain. Sedangkan seni jumlahnya ada jutaan mungkin. Tapi sekolah tidak mensuport hal tersebut. Sekolah hanya mengajarkan apa yang mereka anggap mudah untuk diajarkan. Sekolah mungkin tidak semuanya ada yang ajarkan renang kan? Nah, coba kita lihat, ade rei belajar apa di sekolahnya dulu? Saya? Atau christin hakim? Belajar apa disekolahnya dulu? Belajar teater? Yakin? Ada pelajaran teater di sekolah? Kalau ada pun, mungkin hanya ekstrakurikuler, bukan pelajaran utama. Mereka menganggap hal-hal tersebut tidak bisa mencapai masa depan yang baik. Di sekolah, kita belajar akan satu hal. Kita belajar akan ketakutan bahwa kita bisa salah.

Saya punya cerita menarik. Ada seorang anak kecil. Saya pada saat saya ke sekolah anak saya, ada seorang anak kecil sedang menggambar seperti wajah. Terus saya tanya sama anak itu. Sayang, kamu gambar apa? Anak kecilnya bilang ke saya. Om saya lagi gambar tuhan. Ha? Gambar Tuhan? Kan orang-orang tidak tahu Tuhan seperti apa. Trus anak kecil itu liat ke saya dan bilang, ”Iya om, makanya tunggu dulu sampai saya selesai. Kalau saya udah selesai, nanti kasih liat orang-orang. Ntar orang-orang tau Tuhan seperti apa.” Saya tertawa terpingkal-pingkal. It is a joke. It is a joke. Dan saya tertawa. Tapi intinya adalah anak kecil tidak takut salah. Kalau itu yang melakukan orang dewasa, kita akan menganggapnya bahwa orang itu gila. Tapi anak kecil tidak pernah takut salah. Nah, ketika kita di sekolah, kita diajarkan bahwa mencoba sesuatu itu ada kemungkinan salah dan kalau salah, ada hukumannya. Ulangan jelek, hukumannya tidak naik kelas. Membuat PR malas, hukumannya di strap, lari keliling lapangan. Ujian nasional jelek, tidak dihitung tiga tahun anda belajar sebelumnya. Langsung tidak lulus! Bayangkan, hukuman-hukuman karena ketakutan anda berbuat salah.

Jaman saya dulu, ada 5 pelajaran merah, pasti tidak naik. Matematika, bahasa Indonesia, agama dan sebagainya. Saya dulu pernah bertanya pada guru saya,”Kalau seandainya pelajaran agama saya jelek, apakah berarti agama saya jelek?” Kayanya tidak deh. Jadi apa yang dinilai sebenarnya? Nah kita menjadi takut untuk salah. Dan hal itu membunuh kreativitas kita dalam berkarya. Sangat amat membunuh dalam berkarya. Einstein yang tidak lulus SD, akhirnya dia mencoba hal-hal yang tidak diajarkan di sekolah. Maka itu, dia bisa sehebat itu. Sedangkan di sekolah, kita diajarkan untuk percaya bahwa kita tidak bisa menjadi sesuatu yang tidak diajarkan oleh sekolah. Ya contohnya saya. Main sulap tidak diajarkan oleh sekolah. Dulu yang namanya main sulap masa depan dibilang suram. Penyanyi dibilang suram, olahragawan dibilang suram. Semuanya dibilang suram kalau itu tidak diajarkan di sekolah dengan tepat atau tidak menjadi bahan mata pelajaran yang dipentingkan.

Mereka semua menganggap kalau lulus nilainya bagus, kuliah, hebat, pasti sukses. Yang jadi masalah, nah yang jadi masalah, yang mungkin mereka lupa, yang mungkin anda tidak tahu. UNESCO mengatakan bahwa di tahun 2013 ini, nanti, kelulusan anak-anak S1 itu meningkat puluhan kali lipat dibandingkan 2012. Dan 2014 akan naik lagi puluhan kali lipat dibandingkan 2013. Jadi intinya, nanti sekitar tahun 2030an, yang lulus S1 itu mungkin 400% dibandingkan sekarang. Luar biasa bukan? Sangat luar biasa. Berarti anak-anak akan menjadi semakin pintar. Tapi, ada satu hal yang tidak dipikirkan, kalau kelulusan s1 semakin banyak. Lalu pertanyaannya, guna ijazah s1 untuk apa? Lalu pertanyaannya “Apa gunanya anak-anak tersebut memiliki ijazah s1?” Orang s1 nya banyak banget. Semuanya bisa mendapatkan s1. Makanya saya pernah mendapatkan ada supir taxi yang saya tanya ternyata dia kuliah lulusan s1 akuntan. Tapi susah dapat kerjaan karena sudah terlalu banyak orang-orang yang memiliki ilmu yang sama dan terlalu banyak orang-orang yang mencari pekerjaan di bidang ilmu yang sama. Pekerjaannya tidak ada. Tapi orang-orang yang memiliki ilmu yang sama semakin lama semakin banyak sekali.

Nah, merubah sekolah tidak gampang. Pasti. Banyak sekali hal yang harus diubah dan saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Bukan salah pemerintah, bukan salah gurunya, bukan… Ini sudah salah sejak dulu. Mengubah sekolah tidak gampang. Mungkin memakan waktu puluhan tahun. Jangan berharap bahwa di sekolah ada pelajaran bermain piano, menjadi kurikulum sekolah. Karena lebih gampang menyiapkan kertas dan pensil atau kalkulator buat belajar matematika dibandingkan menyiapkan 40 piano buat anak satu kelas. Jadi jangan berharap hal tersebut terjadi. Tapi coba lihat, kalau kita tidak belajar piano, atau kita tidak belajar hal lain atau seni yang lain, dan sebagainya. Contohnya saja, anda ketemu piano di jalan. Anda tidak pernah belajar piano, anda bisa main tidak? Tidak pasti tidak. Kalau anda tidak belajar hitung, lalu anda ketemu kalkulator di jalan, anda bisa tidak menjumlahkan sesuatu? Pasti bisa! Liat kan bedanya?  Kalau anda tidak tahu, peta buta, dan anda ketemu peta, atau ketemu GPS, anda tau tidak letaknya? Tau! Kalau tidak tahu sejarah ada google. Tidak tahu bahasa, ada kamus atau translater. Kalau anda tidak tahu cara mematung dan ketemu tanah liat, jadinya apa? Tidak jadi apa-apa. Jadi ternyata ilmu-ilmu yang sebenarnya sulit untuk dipelajari kalau tidak diajarkan, itu malah tidak diajarkan di sekolah. Ini menurut saya ya.

Saya bicara seperti ini memang mungkin terdengar aneh. Ya itu kan seni. Kadang tidak penting. Kadang penting hal-hal yang eksakta atau fakta yang lebih baik dipelajari. Tidak banyak juga kan orang jadi binaragawan. Tidak banyak juga kan orang sukses jadi pemain sulap. Tidak banyak juga kan orang bisa hidup dari mematung, membalap, masak, menyelam? Tidak banyak kan? Memang benar. Tidak banyak. Kenapa tidak banyak? Dan kenapa tidak menjadi pekerjaan inti saat ini? Tapi liat yang berhasil. Betapa hebatnya mereka dielu-elukan oleh masyarakat. Tapi hanya sedikit. Mengapa hanya sedikit dan mengapa tidak banyak? Jelas jawabannya sederhana. Karena sejak dulu sekolah tidak mengajarkan orang-orang untuk berhasil dalam bidang tersebut. Itu dia mengapa orang-orang tersebut jumlahnya sedikit. Yang banyak adalah ahli-ahli akuntan, Ahli matematika. Pokoknya akhirnya semuanya bekerja di kantor. Jadi sekertaris, jadi teller bank, dan sebagainya. Jadi manager, mungkin mentoknya. Masalahnya adalah semakin ke depan semakin banyak orang-orang dengan kemampuan tersebut. Bayangkan nanti kalau anda lulus sekolah, yang lulus sekolah dengan ilmu yang sama jumlahnya ada jutaan. Tapi tempat kerjanya? Hmmm… berapa besar tempat kerjanya? Bisakah anda bersaing dengan mereka? Dengan tempat kerja yang hanya segitu-gitunya saja. Saya yakin semakin lama semakin sulit.

Yaaaaah, mungkin saat ini yang namanya belajar olahraga tidak lebih penting dari matematika. Itu dia mengapa akan lebih banyak akuntan, dan sekertaris dibandingkan pemain film dan pemain teater nantinya. Tapi seperti saya bilang nanti bahwa pekerjaannya mungkin nanti tidak sebanyak sekarang. Jadi berhati-hatilah. Berpikirlah.

Sekali lagi. Mengubah sekolah sangat amat tidak mudah. Dan mungkin tidak bisa. Yang kita bisa bukan mengubah sekolah tapi mengubah diri kita sendiri.

Saya punya seorang teman, pemasak (chef) yang gajinya puluhan juta di hotel. Bayangkan! Pemasak! Gajinya puluhan juta. Dan dia belajar masak akhirnya otodidak. Belajar dari google. Karena di sekolah dulu dia tidak diajarkan masak. Bedakan! Anda bayangkan jadi kalau kita mempelajari hal-hal yang tidak diajarkan di sekolah, mungkin kita akan mendapatkan kesempatan yang lebih banyak lagi. Dari pada hanya mengandalkan apa yang kita diajarkan di sekolah. Jadi coba ubah pola berpikir anda. Jangan mengubah sekolahnya. Susah! Tapi ubah pola pikir anda. Ubah diri kita sekarang.

Dulu ketika saya kecil, saya tidak naik kelas pada saat SMP 1. Ibu saya menghampiri salah satu teman saya. Saya punya teman seorang bule usianya jauh di atas saya. Pada saat saya SMP dia udah usia 34 kalau gak salah. Namanya adalah Yu Jin. Dia adalah guru sulap saya. Ibu saya bertemu dengan dia dan ibu saya bilang “Anak ini pelajarannya hampir jelek semua. Susah untuk naik kelas.” Dan Yu Jin mengatakan pada ibu saya, “Yes I know. Off course I know because He is not an educational type of person. He is a magician. He thinks differently.” Dia mengatakan bahwa intinya tidak semua orang harus bisa dan harus sukses di dalam bidang yang diajarkan di sekolah.

Intinya adalah kita harus mengutamakan apa yang disukai oleh anak-anak kita dan dukung apa yang disukai oleh mereka. Ubah cara kita berpikir, ubah cara kita berpikir, ubah cara kita sebagai orang tua berpikir, ubah cara kita sebagai anak-anak yang belajar di sekolah berpikir. Apabila ada orang tua dan anda mendengarkan ini, dukung apa yang anak anda suka. Kalau dia suka memasak, les-in masak. Suka menari? Les-in nari. Suka balet? Les-in balet. Suka nyetir mobil? Dari pada ugal-ugalan di jalan, lebih baik di les-in dengan benar. Siapa tau bisa menjadi seorang pembalap terkenal. Tidak ada yang tidak mungkin.

Now, let’s think what do you want to be? What do you want to be in the future? Apa yang ingin anda lakukan nanti di masa depan? What do you want to be in the future? So, now, go to school! Tetap pergi ke sekolah. Jangan tidak sekolah Karena itu juga penting. Tapi kita harus mengubah mindset kita. Go to school! Your parents pay a lot. But don’t forget what you really want to be. Apapun itu. Apa yang ingin anda lakukan nanti? Apa yang ingin anda cita-citakan nanti? Apapun di luar sekolah, kejar cita-cita anda ! jangan hanya melulu menganggap bahwa sekolah sukses artinya masa depan anda sukses. Tidak! Kesuksesan hanya ada dalam imajinasi pikiran anda. Hanya ada dalam kemauan anda. Apapun anda ingin menjadi, anda bisa kalau anda yakin!

This is Deddy corbuzier – wisdom thinking.

d

=================================================================

Dan di website resminya om Deddy pun, ada ilustrasi menarik dengan judul keren “Sekolah Basa Basi”. Silahkan membaca :

SEKOLAH BASA BASI

Coba tanya sama orang tua kalian… Suka balet? Mau tidak belajar balet?

Suka catur? Gimana kalau les catur? Mau tidak mereka…

Itu masalahnya…

Masalah kenapa kalau kita tidak suka matematika…kita dipaksa belajar matematika… Kalau tidak suka biologi kita dipaksa belajar biologi..

Dan bahkan di berikan pelajaran tambahan matematika pulang sekolah..

Saya ingat sekali saat saya SMP mata pelajaran matematika saya jelek.. Dan saya pun di les kan pada… Siapa lagi kalau bukan GURU matematika saya sendiri (kerja sampingan)… Dan apakah saya jadi pintar matematika sekarang? Ya tetap tidak…

Mengapa saya tidak cukup belajar pertambahan.. Lalu perkalian.. Atau basic basic nya saja… Mengapa saya harus belajar rumus TANGEN… ATAU RUMUS RUMUS lainnya yang saya tidak pakai mungkin sampai saya mati nanti…

Balet… Dasarnya adalah lompat.. Tekuk kaki.. Dll.. Semua org bisa kan.. Tapi tidak semua orang harus bisa balet kan?

Manusia adalah unik… Apalagi anak anak yang masih berkembang… Mengajari ikan untuk terbang.. Hanya akan membuat si ikan Stress dan mati…

Begitu juga dengan anak..

Kalau saya punya hak.. Saya akan berikan penjurusan sejak Smp. Mereka suka apa…mereka belajar apa.

Pilih yang mereka suka… Kita maksimalkan pelajarannya… Yang tidak suka? Ya cukup dasar nya saja..beres bukan?

Saat anak lain di les kan macam macam… Saya tanya anak saya.. Km mau belajar apa… Mau les apa?

Endingnya anak saya Azka les catur dan bela diri..

Kalau pelajarannya jelek? Ah biar saja… Jangan takut nilai pelajaran merah.. Namanya belajar. 

Kalau tidak naik kelas? Ya biar saja… Jangan takut tidak naik kelas… 

School has to be fun.. Not stressful.

Memarahi anak krn mereka pelajaran jelek?

Menjadikan kita Orang tua bodoh….

Memarahi hal yang si anak tidak suka akan mematikan proses kretivitas mereka…

Biar saja mereka berkembang.. Sesuai apa yang mereka bisa dan diciptakan.. Ingat kita semua unik.. Mengapa kita diperlakukan sama?

Pernah coba minta guru Inggris mengerjakan soal biologi? Atau guru matematika ujian seni rupa?

Gimana kalau guru bahasa indonesia ujian olahraga?…. Pasti kebanyakan lucu hasilnya.

Inilah mengapa Saat kecil.. Cita cita anak biasanya menjadi astronot.. Presiden.. Polisi… Penari.. Pesulap… Dll.

Sepertinya tidak ada yang cita citanya menjadi.. Profesor biologi.

Kalau pun ada.. Pasti krn si anak nanti mulai mengenal hal itu di saat menjelang remaja dan menjadi suka… Kalau tidak? Tidak mungkin berita cita jadi ahli akuntan dll.

Lalu mengapa ketika kita besar cita cita jadi presiden berganti jadi asisten dosen?

Atau astronot jadi akuntan?

Atau pesulap jadi… Kerja di bank.

Simple… Coz the parents and the environment including the school refuse the ideas… And Push their own  goals…

Saya ingat sekali saat saya SMP nilai akuntansi saya 4..

Lalu si guru marah sambil berkata “kamu gak bisa akuntan gak akan sukses kamu! Mau jadi apa?”

Mungkin sekarang bisa saya jawab… Saya sukses di bidang lain saja ya.. Lalu saya bayar seorang akuntan tuk kerja buat saya.

Si anak dijejali pelajaran yang bahkan mereka tidak mau… Tidak suka… Dan dijejali nya sampai eneg. Bukan di perkenalkan… Pernah menghafal peta buta??

Aneh bukan… Sampai detik ini setiap saya tersesat saya pakai GPS. Setiap saya beli peta… Selama ini ada tulisannya… Nah lalu saya belajar peta buta itu untuk apa ya? Oh saya tau… Mungkin mereka berpikir siapa tau saya akan jadi Indiana Jones.

Change the way u think…

If not… U kill your kids most potential ability…

Make them DUMB….

YES DUMB.

I dont need kids who know everything… I need kids who good in what they love.
ev

5 thoughts on “Mulai ngerasa gelar Cumlaude Sarjana S1 mu gak bermanfaat?

  1. Farras Archi says:

    mas permisi, bisa minta tolong bikin tulisan mengenai subkonsentrasi/konsentrasi yang tepat dan ciri cirinya buat anak teknik elektro dan teknologi informasi UGM nda mas?

  2. Farras Archi says:

    dan juga kalau boleh dibuat tulisannya juga mengenai perbandingan antara konsentrasi dari jurusan “ini” di universitas “ini” dengan konsentrasi “ini” di universitas “itu”. makasih mas sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s