Harga Minyak ‘Terjun Bebas’, Ini Dia yang Jadi Korban-korbannya

harga-minyak-turunSedih memang ketika harus melihat satu persatu teman-teman yang dulu satu perjuang kerja bersama, makan bersama, bersenda gurau bersama, akhirnya harus pergi satu per satu akibat perihnya permainan politik dan ekonomi perminyakan ini. Bukan tanpa ada sebab atau ibarat bim salabim abra kadabra, mereka yang dulu satu kantor, kini pemandangan yang akrab hanyalah kursi kosong tanpa isi.

Di bawah ini (semoga) bisa menggambarkan sebab akibat kenapa beberapa pekerja minyak harus dirumahkan satu persatu. Tapi percayalah kawan, Allah maha Adil dan Allah maha melihat. Semua yang sedih akan kembali tersenyum. Semua yang hilang akan kembali muncul. Jadi bersabarlah. Karena saya pribadi percaya bahwa kekuatan doa sangat amat tajam tusukannya.

Keep fighting and keep praying fellas. This post is dedicated for all of my tough friend around the world.

Dan selamat membaca tulisan ini teman-teman.

Original post can be seen here.

Jakarta -Harga minyak dunia saat ini ‘terjun bebas’. Sejak harga tertingginya pada Juni 2014 lalu, penurunannya hingga sekarang mencapai 50% lebih, bahkan sekarang harganya sudah di bawah US$ 50/barel. Siapa korbannya?
Di balik penurunan harga minyak ini, muncul politik dagang dunia di antara para negara penghasil minyak. Tujuannya adalah agar pangsa pasar pada produsen minyak ini bisa terjaga, karena minyak jadi tulang punggung penerimaan negara mereka.Arab Saudi sebagai produsen minyak terbesar di dunia sedang memiliki rencana. “Arab Saudi penentu harga minyak,” kata Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dalam pertemuan bersama Pemimpin Redaksi media massa di rumah dinasnya, Widya Chandra, Jakarta, Rabu malam (14/1/2015). Memang dalam pertemuan antar negara produsen minyak dunia, yang tergabung dalam OPEC beberapa waktu lalu, Arab Saudi menolak menahan produksi minyaknya. Penurunan produksi minyak dunia menjadi salah cara untuk menahan jatuhnya harga saat ini. Ada kepentingan Arab Saudi di sini. Bambang menuturkan, di Arab Saudi, biaya memproduksi 1 barel minyak mentah adalah yang paling murah, yaitu sekitar US$ 10-US$ 20. Sementara Iran yang juga produsen minyak, biaya produksi 1 barel minyak mentah adalah US$ 40-US$ 50 per barel. Bayangkan, bila harga sekarang sudah di bawah US$ 50 per barel, bisa dibilang Iran rugi menjual minyaknya.

Lantas kenapa Arab Saudi tidak menahan kejatuhan harga minyak ini?
Dijelaskan Bambang, tengah terjadi perang adu harga dan adu stamina di antara negara produsen minyak dunia saat ini. Maksudnya adu stamina adalah, merelakan anggarannya tergerus, karena penurunan harga minyak akan membuat penerimaan negara jatuh. “Saudi itu perangnya (harga minyak) menghadapi multiple enemies,” jelas Bambang. Tujuan Arab Saudi membiarkan harga minyak jatuh adalah agar shale oil yang sedang booming di Amerika Serikat (AS) tidak menjadi subtitusi dari minyak yang merupakan tulang punggung penerimaan Arab Saudi. Selain AS, korban yang diincar adalah Rusia sebagai produsen minyak terbesar kedua dunia setelah Arab Saudi. “Jadi Arab Saudi tidak nyaman dengan Rusia, karena potensi cadangan minyak Rusia masih luas,” ujar Bambang. Kembali ke soal adu stamina, Bambang mengatakan, Arab Saudi yang biasanya anggarannya surplus besar, tapi di tahun ini defisit sampai sekitar Rp 400 triliun.

“Katanya defisit ini pertama kali dalam sejarah. Jadi Saudi itu rela anggarannya defisit. Namun ada yang anggarannya lebih parah, yaitu korbannya Rusia, Venezuela, dan Oman bisa kolaps bujetnya,” cerita Bambang. Untuk Rusia sendiri, saat ini ekonominya memang tengah menderita karena sanksi dari AS dan negara-negara Eropa barat. Penurunan harga minyak makin membuat
ekonomi negara ini merana. Sampai kapan harga akan terus turun? Bambang menyatakan, tidak ada yang bisa menebak ke mana harga minyak akan bergerak. “Banyak yang memperkirakan harga minyak rendah berlangsung dalam setahun, karena adu harga dan adu stamina,” kata Bambang. Untuk Indonesia juga tidak mudah, kondisi harga minyak yang terjun bebas ini membuat penerimaan negara terancam turun. Alasannya, perusahaan penambang minyak akan menahan investasinya, karena harga jatuh, sementara biaya produksinya tinggi.

Indonesia saat ini mengandalkan sumur-sumur minyak tua yang biaya produksinya tinggi. Sumur minyak muda di Indonesia hanya di Cepu saja. “Jadi sekarang banyak yang bilang tidak menguntungkan. Tidak masuk akal jual murah, investor pasti hold. Tidak usah menambang sekarang. Ini berpengaruh kepada lifting. Apalagi sumur minyak kita sudah tua semua. Jadi untuk menggenjot, harus pakai teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), dan ini membuat biaya produksi jadi makin tinggi. Jadi sulit membayangkan lifting tercapai. Lifting turun, penerimaan pasti turun,” papar Bambang.

Dalam Rancangan APBN Perubahan (RAPBN-P) 2015, pemerintah Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) mengajukan asumsi harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) di US$ 70/barel, ini sulit dicapai. “Prediksinya ada yang bilang, harga minyak tertinggi tahun ini akan terjadi di triwulan terakhir, yaitu sekitar US$ 60 per barel. Bisa saja tidak segitu,” kata Bambang. Karena itu, tidak ada jalan lain, pemerintah akan menggenjot penerimaan pajak yang ditargetkan naik tinggi, yaitu sekitar 40%, dari realisasi sekitar Rp 897 triliun tahun lalu, menjadi sekitar Rp 1.250 triliun tahun ini. Pemerintah tak mau menambah utang, karena ada risiko di pasar keuangan, dan juga risiko politik dari penambahan utang ini.

“Jadi harus ada extra-extra effort untuk pajak,” kata Bambang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s