Akui saja, bukan dia yg salah tapi memang kita aja yang jahat

xxx

Tulisan ini gue sadur dari salah satu akun line “Life Problem” tanggal 10 Juni 2015 jam 7.16PM. Berikut kutipannya.

“Gue lagi muak sama masyarakat Indonesia Gue baru baca soal Angeline, anak perempuan umur 8 tahun yang ditemukan meninggal dan dikubur di kandang ayam. Sehari-hari banyak saksi yang bilang kalo dia sering disiksa dan dimarahin sama ibunya. Tapi apa tindakan mereka? Diam. Mereka peduli setan.

Sehari-hari banyak guru yang sadar kalo Angeline ini suka datang ke sekolah dengan lusuh dan badannya bau. Tapi apa tindakan mereka? Diam. Mereka peduli setan.

Baru ketika nyawanya dirampas, lalu dikubur bersama sebuah boneka dikandang ayam, semua orang histeris. Tai babi.

Ini adalah pembelajaran buat kita, jangan menunda untuk menolong dan memperbaiki keadaan. Sebuah refleksi yang harusnya bikin kita tau diri : Kita harus saling peduli.

Seperti apa yang diucap Napoleon, dunia bisa sebusuk ini bukan akibat ulah mereka yang jahat, tapi karena banyaknya orang baik yang gak punya nyali untuk bertindak.

Bangsa ini ngegrebek kos-kosan mesum aja berani. Bangsa ini ngarak pasangan kumpul kebo yang gak bikin ricuh
aja berani. Bangsa ini ngatain koruptor harus dihukum mati teriaknya kencengnnya bukan main. Begitu disuruh nolong tetangga yang jadi korban KDRT? Ompong semua, nyalinya ilang entah kemana.

Ketidak-perdulian kita lagi-lagi harus dibayar nyawa. Sampe berapa kali harus terulang? Segitu susahnya kah untuk jadi orang baik?

Saat kecil, kita bercita-cita ingin jadi orang baik, menolong sesama, jadi manusia yang berguna. Sekarang waktunya kita buktikan janji masa kecil kita dulu. Jangan lagi takut buat jadi orang baik.

And for you, Angeline. It’s your turn to have a good time up there. Rest in Peace, kiddo!
Cr:askfm”

line

That’s it saduran yang gue ambil dari akun line tersebut. Oke, jangan komentar dulu karena gue juga punya opini tentang ini.

Opini pertama gue, tu orang yang bunuh anak secantik dan sebaik ini mesti harus dihukum seberat-beratnya. Bukan karena kecantikan dan keimutan ni anak. Tapi emang tindakan yang ia lakukan udah out of border bro. Sebelum gue jauh melangkah, gue mau kasih tau dulu. Gue emang bukan orang yang tau banyak tentang kasus ini. Tapi acak kali gue membaca beritanya dan mengikuti perkembangannya di lini massa.

So, if there’s something missing, I wanna apologize for the first time. Deal? Okay, lanjut. Nah itu opini gue yang pertama.

Opini kedua gue lebih mengarah ke opini yang dipublish oleh akun line tadi. Senada dengan akun tersebut, gue setuju banget kalo Indonesia krisis moral dan mental. Coba deh gue tanya ke elu. Kalo elu liat ada anak umur 8 tahun dimarah-marahin ama orang tuanya di muka umum. Lu bakal ngapain? Beberapa diantara kita mungkin bakal negur dan kasih nasihat ke orang tua itu kalo mendidik anak alangkah lebih baiknya dengan kelembutan bukan dengan cara yang kasar. Tapi realita di lapangannya apa? Sekitar 89% dari masyarakat Indonesia (survey emang gak valid bro tapi real terjadi di lapangan) akan lebih memilih diam dan berpikir seperti ini : “Ah, ngapain gue urusin masalah mereka. Urusan gue aja belum kelar. Mungkin emang gitu cara si ibu/ayah nya ngedidik anaknya. Atau emang anaknya bandel dan harus dikasih teguran agar jera.”

Hey brooooow. Ampe kiamat urusan loe gak bakal kelar. Karena mindset lu kaya gitu mulu. Okay, anggap aja urusan lu kelar dan lu liat aksi di atas. Elu bakal nyari-nyari urusan lain yang belum kelar sehingga muncullah kalimat “Ah urusan gue aja belum kelar. Ngapain ngurus punya orang”.

See? Nah, ini yang gue bilang dengan krisis moral tadi. Kita lebih milih ngeluarin headset trus nyolokin ke hape sambil mutarin musik favorit kita dari pada negur kesalahan yang nyata-nyatanya terjadi di depan mata kita. Salah kah? Yaaaa gue gak bisa bilang itu salah atau benar. Karena setiap tindakan pasti ada konsekuensinya dan ada baik serta buruknya. Tapi apakah itu krisis mental? Jawabannya IYA!

angeline_missing_girl_headerOpini ketiga, kita, masyarakat Indonesia selain krisis mental ternyata juga krisis Communication skill alias gak jago ngomong. Mental anak muda jaman sekarang buat berani ngomong udah gak kaya pemuda-pemuda zaman dulu lagi. Kalo dulu, semua berani berorasi dan menyampaikan pendapat. Ada yang salah ditegur, sehingga gak terulang lagi. Nah beda banget ama zaman sekarang yang anak mudanya lebih memilih bungkam dan sibuk “berbicara/berorasi” di media sosial. Mata mereka, otak mereka dan tubuh mereka seakan disedot dan dipaksa terbiasa untuk fokus pada layar mini yang sering disebut-sebut sebagai smartphone. Mereka lebih senang berkicau dan menyampaikan opini mereka di dunia awan (cloud media) ketimbang di dunia nyata yang sebenarnya lebih real dan ada di depan mata mereka.

Siapa yang salah? Saya gak berani buat judge siapa-siapa karena itu bukan tugas saya untuk menyalahkan siapa yg salah dan siapa yang benar. Tapi jika boleh memberi pendapat, saya akan kritik orang tua yang membesarkan anak-anak muda zaman sekarang. Saya tanya deh, umur berapa sih kalian udah diperbolehkan megang hape. Dan dari kejauhan terdengar suara yang berkata “sejak kelas 1 SD!”. Jedgeeer…. Emang gak salah kalo anak-anak sekarang udah lebih pinter ketimbang gue, udah lebih mesum duluan ketimbang gue, udah lebih bisa punya pacar ketimbang gue yang masih jomblo-jomblo aja. Eh gak jomblo ding, single.

Keberadaan teknologi semacam smartphone, laptop, PC, dan tablet serta internet sebagai tulang punggung informasinya memang seperti mata uang koin yang punya 2 sisi. Ada sisi baik dan sisi buruknya. Dua sisi yang saling bertolak belakang ini memiliki efek yang berbeda-beda. Dan hanya akan didapatkan oleh yang menjalaninya. So, you decide what you choose. But don’t forget to accept the risk you’re gonna face of what you’ve done.

You know what? Gue baru megang gadget itu kelas 2 SMA. Dan itu masih nokia 3100 yang gamenya ular kecil yang tambah lama makin panjang habis makan bola voli. Monochrome brooow. Hahahaha… Itu pun juga karena tuntutan yang harus komunikasi ama orang tua kalo ada terjadi apa-apa. Maklum, saat itu baru munculnya kasus-kasus penculikan anak. Walau kalo boleh jujur, gak bakal berharga banget sih mereka nyulik gue. Hehehehe…

Nah back to topic, ini fakta teman-teman. Anak-anak sekarang secara tidak langsung “dimatikan” kreativitasnya, secara tidak langsung “dibungkam” aspirasinya, secara tidak langsung “dibunuh” kemampuannya untuk berbicara.
Makanya ada istilah “SMARTphone, but DUMB people”

Masih gak percaya? Okay, saat kalian datang ke sebuah seminar dan selang beberapa jam, pembicara menutup pembicaraannya dengan pertanyaan “Ada yang mau bertanya?”.
Seberapa banyak di antara kalian yang mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan. Kalo lu tanya gue, gue pasti nanya. Seminar apapun gue pasti bakal berusaha buat jadi orang pertama yang nanya. Nah gimana dengan elu teman-temanku tercinta? Are you gonna raise your hand and throw a question? Nope?
Okay, gpp. Karena gue sadar kok gak gampang buat memberanikan diri dan berbicara di muka umum apalagi di tempat yang kita belum kenal banyak orangnya kaya seminar tadi.
Okay sekarang gue ganti kasus. Apa elu bakal masih berani bertanya kalo dosen udah nutup mata kuliah dan meminta mahasiswanya bertanya. Apa elu bertanya? Gak kan? Padahal elu kenal ama teman-temanlu di kelas tersebut.

Okay, gue maklum kok. Jawabannya bukan karena kita kenal atau gak ama audience di samping kanan atau kiri kita sehingga kita berani bertanya. Tapi emang kita gak pernah dididik dari kecil buat berani bersuara.  Yap, kita krisis “communication skill”.

1Opini ke empat, jangan salahkan Islam nya tapi berkacalah, “Apa saya yang salah?” Nah, berhubung gue Islam, gue mau share sedikit tentang salah satu kandungan hadis yang gue pernah dapat. Kurang lebih seperti ini :

“Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam  bersabda: “Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.” (Riwayat Muslim)

Okay. Hadis itu kurang lebih menjelaskan bahwa kalo elu ngelihat sesuatu yang gak baik atau gak terpuji, maka elu bisa ubah dengan tangan lu. Alias lu lakukan sesuatu yang membuat hal gak baik itu hilang. Kalo elu gak berani alias cemen alias bermental lemah, elu bisa tegur atau kasih saran a.k.a kritikan. Nah kalo elu masih cemen, alias mental dengkul, elu bisa berdoa dengan khusu. Dan cemen alias bermental leman alias mental dengkul itu adalah selemah-lemahnya iman. Sekarang gue tanya deh ke elu. Elu islam yang lemah atau islam yang kuat?

Wooooh, semua teriak dan bilang kalo GUE ISLAM YANG KUAAAAT!

Okay, gue kasih contoh kasus deh. Kalo elu liat ada segerombolan geng motor lagi duduk sambil ngerokok di warung makan dan di samping mereka ada anak kecil yang belum tau apa-apa dan ikut mengisap polusi udara yang mereka cemarkan.
Pertanyaan gue pertama sebagai contoh “AKSI” dari hadis tadi. “Elu berani gak ambil tu putung rokok dari mulut mereka dan jatuhin tu rokok ke tanah trus lu injak-injak biar rokoknya mati?” Jawabannya adalah GAK!

4Lanjut ke pertanyaan ke dua sebagai contoh “TEGUR” (kalo iman lu sedikit lemah). “Elu berani gak nepuk pundak tu abang-abang geng motor seraya berkata : Bang mohon maaf nih, di samping abang-abang ada anak-anak. Alangkah baiknya tidak merokok di samping mereka. Bukan hanya agar asap rokoknya gak ke isap mereka tapi juga biar mencontohkan hal yang baik ke mereka sedari dini?” Jawabannya adalah TETAP GAK BERANI!

Trus lu ngapain? Karena elu adalah orang Islam yang sangat amat lemah imannya, lu akan lebih memilih berdoa dan berharap agar Tuhan mengampuni abang-abang geng motor tadi.

Tapi masa kaya gitu terus sih brooo??? Coba pikir lagi deh!

Hal yang kaya gini gak cuma dengan putung rokoknya si abang-abang geng motor. Elu juga melakukan hal yang sama ketika :

  1. Ada pria berbadan kekar persis kaya Adek Raey duduk di kereta antar kota. Anehnya si abang Adek Raey ini duduk di bangku yang diperuntukan untuk lansia dan orang cacat. Elu berdiri sambil bergelantungan persis di depan si Adek Raey. Dan di samping lu ada nenek tua yang juga berdiri. Apa yang lu lakukan? Elu masih lebih memilih berdoa berharap si abang Adek Raey tiba-tiba dihisap UFO yang ntah kenapa datang tiba-tiba di atas kereta sehingga si nenek bisa duduk di kursinya? Coba dipikir lagi deh bro.
  2. Seorang nenek hendak menyeberang jalan. Elu yang berada di seberang jalan udah nyebrang duluan dan baru menyadari hal tersebut. Apa yang lu bakal lakukan? Apa elu masih lebih memilih berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berharap tiba-tiba ada superman lewat melintas di jalan raya dan memeluk si nenek serta nyebrangin dia ke arah elu? Coba dipikir lagi deh bro.
  3. Buat kasus ke tiga ini, gue khsusukan utk yang beragama Islam ya. Saat perang terjadi sehingga masyarakat Islam tertekan. Anda sebagai muslim yang baik berani berjihad? Anda relakah jiwa dan raga anda dipertaruhkan demi tegaknya Islam? Anda Islam loh yaaaa.. Tau jihad fisabilillah kan? Pasti juga udah tau kan kalo jihad itu hadiahnya surga? Masih gak mau? Yap ANDA PASTI TIDAK MAU. Bukan karena anda tidak ingin masuk surga dan lebih memilih masuk neraka. Tapi memang karena mental anda belum terasah. Benar atau benaaaar????

Itu baru beberapa contoh kasus yang terjadi real di lapangan. Elu boleh aja bilang “Sapa bilang gue bakal cuma berdoa dan gak ambil tindakan.”

Elu boleh aja kok bro ngomong kaya gitu sekarang. Tapi bakal amat sangat berbeda jika elu diposisikan tepat saat kejadian terjadi. Elu pasti LEBIH MEMILIH UNTUK DIAM DAN BERDOA.

2Opini ke lima, Kita pada akhirnya lebih tepat dibilang krisis softskill. Mental yang kurang cakap dan kemampuan komunikasi yang ala kadarnya adalah sedikit dari ribuan contoh “Lack of Softskill”. Yang salah siapa? Gue gak nyalahin siapa-siapa. Tapi kalo boleh memberi opini, gue bakal salahin orang tua zaman ini. Berapa banyak di antara elu yang habis pulang sekolah masih lanjut les matematika, trus sorenya les fisika, malamnya les biologi, dan lain-lain. Rutinitas lu hanya belajar-belajar dan belajar. Semakin pintarkah dirimu? PASTI! Pasti makin pintar! Tapi semua itu hanya mengasah hardskill kamu. Bukan softskill kamu. Memang inilah yang membedakan kita dengan orang Jepang. Orang Jepang memulai pendidikan dini bukan dengan mengajari anak TK hitung dan baca. Apalagi anak TK zaman sekarang yang udah diajarin integral dan cosinus tangensial di Indonesia. MasyaAllah. Tapi orang Jepang memulai mengajarkan budaya, adat, sopan santun, attitude dan behavior serta habit yang baik. Anak TK diajarkan bagaimana budaya mengantri, bagaimana sopan santun dilakukan dan lain sebagainya. Sehingga platform mereka adalah softskill yang nantinya akan menopang hardskill. Beda dengan kebanyakan orang Indonesia yang dari kecil hardskill nya diasah ampe gede tua ber-uban. Makanya gak salah kalo dibilang orang Indonesia itu pinter-pinter. Pinter siiiih tapi…. yaaa gitu deeeh….
Saking pinternya nih ya, tak lama dari kasus kematian bocah lucu ini. Seorang ayah yang juga dosen memiliki pemikiran mendidik anak dengan menelantarkan anak laki-lakinya di luar rumah. Ampe tu anak nginap di pos satpam. Si ayah dosen loh bro. Apakah si dosen tidak pintar? TENTU TIDAK. Masa dosen begok? Mau dibawa kemana pendidikan ini? Dosen PASTI PINTAR. Gue jamin. Karena minimal S2 kalo yang gue tau di UGM. Berhubung gue alumni UGM loh yaaa. Nah, si bapak emang cerdas karena hardskill nya ke asah. Tapi softskill nya? Siapa tahu??? Nah ini yang gue tekankan tadi ttg softskill.

Anak-anak atau calon pemimpin masa depan bukan hanya dididik dengan kemampuan matematika, fisika, kimia, dll. Mereka juga butuh asupan softskill. Bagaimana caranya?
Ajarkan dia berbudaya, bersopan santun, contohkan ia bagaimana sikap baik tersebut. Gak usah jauh-jauh deh. Kalo elu liat sampah di jalan, please jangan lebih memilih berdoa kepada Allah swt agar tiba-tiba ada batman keluar dari markasnya dan berhenti di depan elu trus mungutin tu sampah. Please brooo, pleasee….. Gak bakal berubah dunia ini hanya karena elu terus-terusan diam dan gak lakukan perubahan.

Indonesia butuh pemudah yang bisa ACTION gak cuma NGOMONG.

3Nah selain mengajarkan mereka good behaviour, para orang tua juga wajib tahu kalo di Islam tu juga diajarkan cara mendidik anak yang baik. Ketika dia masih anak-anak, jadikan dia semacam “tawanan”. Kenapa tawanan karena dia belum tau apa-apa. Sehingga anda berhak mengajari ia apa saja. Jangan ajarkan dia bahkan doktrin dia dengan hal-hal yang nyeleneh. Semisal “kalo kamu ciuman bibir ama lawan jenis, ntar kamu hamil”. Please brooo pleaseeee…. Ampe kiamat datang sekali pun lu miliaran kali cium bibir lawan jenis, gak bakal tu cewek hamil. Makanya brooo… ajarkan ia apa adanya. Ajarkan dia sebab-akibat. Tapi jangan nyeleneh. Saking nyelenehnya, gue dulu di SD malah diajarin spt ini : “Kamu kalo pegangan tangan ama temen cewek ntar cewek nya hamil loh. Kamu mau?”

Buset daaaah… Terimakasih kepada guru SD ku yang sangat inspiratif. Saya tidak akan melupakan kata-katamu buk. Sudah puluhan mantan saya alhamdulillah belum ada yang hamil. Alhamdulillah. Hahahaha….

Ya pokoknya gitu deh bro. Ajarkan si anak apa adanya. Ajarkan dia untuk berinteraksi dengan banyak orang. Makin banyak ia mengenal perbedaan, makin mudah ia beradaptasi. Karena ia sudah terbiasa dengan ketidaksamaan. Menjadwalkan ia les matematika, fisika, kimia dll memang penting, tapi jangan lupa buat ia aktif juga dengan ikut terlibat di kegiatan sosial, kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan volunteer seperti bersih-bersih RT, RW, dll. Sehingga jiwa sosial, empati, simpati, jujur, dan softskill lainnya sudah terasah dari dini. Sembari ia mengasah hardskill nya lewat les-les yang ia ikuti.

Ajarkan juga ia jika bertemu atau selisih jalan dengan orang lain, untuk menyapa atau sekedar say “Hai”. Karena budaya itu sudah lama luntur dan tidak terlihat lagi saat ini.

Hal itu anda ajarkan saat ia sebagai tawanan anda (usia 0-10 tahun). Saat ia tumbuh dewasa dan menginjak masa remaja (11-20 tahun), jangan jadikan ia tawanan lagi. Tapi jadikan ia sahabat. Dimasa ini, anda wajib sering berinteraksi dengan ia. Jangan ikat dia karena dia bukan tawananmu lagi. Ia sahabatmu. Sering ajak ia berdiskusi, ngobrol santai, ajak ia naik gunung, explore kekayaan alam Indonesia, hiking, jogging, renang, dan lain-lain. Posisikan diri anda sebaya dengan dirinya. Sehingga ia akan terbuka dengan anda karena anda sendiri juga terbuka dengan dia. Dengan cara ini, komunikasi di antara anda menjadi lancar. Tak kan ada miss communication lagi.

Kurang lebih itu lah hal-hal yang perlu ditekankan. Ini hanyalah salah satu bilik opini yang penulis miliki. Penulis juga sadar tidak luput dari kesalahan. Tapi penulis sadar bahwa kita tidak harus jadi superman, batman atau spiderman atau paling gampangnya kita gak musti jadi pak ustad dulu buat negur dan kasih ceramah orang.

Saat ada kesalahan atau perbuatan yang tidak baik, ayo beri ACTION, TEGUR dan jangan hanya DIAM lalu berDOA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s