Tentang Berkomunitas

text194_2

Maafkan saya jika tulisan kali ini sedikit anti mainstream. Tak bisa dipungkiri memang manusia adalah paket hidup yang punya 3 relasi. Relasi terhadap dirinya sendiri yang tak lain lebih pada kemampuan diri pribadi seseorang mengendalikan otak, jiwa dan raganya masing-masing. Saya rasa anda cukup mengenali siapa pribadi anda bukan? Relasi berikutnya adalah hubungan antara manusia dengan Tuhan. Hubungan yang satu ini memang tidak dapat di indera sama sekali karena pada dasarnya hubungan yang satu memang unik. Reward dari keberhasilan hubungan ini sedikit gambling. Entah itu surga atau neraka. Kenapa gambling? Karena bahkan seseorang yang sudah mati-matian pun bisa jadi jatuh pada tempat yang tak ia pernah duga. Hubungan yang ketiga adalah tentang interaksi antara manusia dengan manusia yang lain. Nah hubungan antara suatu pribadi dengan pribadi di luar dirinya ini lebih unik lagi. Bahkan paling unik menurut saya. Dan relasi yang satu ini akan saya kupas based on my opinion. Kenapa? Nah, coba perhatikan kutipan salah satu film “The imitation Game” berikut ini.

“Just because something thinks differently from you, does that means it’s not thinking? We allow for humans to have such divergences from one another. You like strawberries, I hate ice-skating, you cry at sad films, I am allergic to pollen. What is the point of different tastes, different preferences if not to say that our brains work differently, that we think differently? If we can say that about one another, then why can’t we say the same thing for machine?
So, it’s not gonna be useful if we always play the game for determining whether something is a machine or a human being. We are human, not machine.”

Bagi yang bingung apa maknanya, saya coba artikan dalam bahasa indonesia. Maafkan jika sedikit blepotan dan harap maklum ya. Hehehe.

“Hanya karna seseorang punya pikiran yang berbeda dari elu, bukan berarti tu org kagak mikir masbro. Kita semua umat manusia punya hak buat punya perbedaan dibanding yang lain. Elu suka ama buah strawberry, gue gk suka ice skating, lu nangis waktu nonton film bergenre sedih, gue alergi ama serbuk polen. Apa gunanya ada perbedaan selera, perbedaan cinta atau preferensi kalo nyatanya otak kita bekerja secara berbeda. Otak kita masing-masing berpikir dengan cara berbeda bukan? Kalo elu semua setuju dengan sudut pandang tadi, terus apa masalahnya dengan mesin yang notaben nya jga punya otak. Beneran deh, gak bakal guna tau memperdebatkan perbedaan antara manusia dan mesin. Kita ini manusia bukan mesin.”

Nah udah pada tau kan sekarang maksud dri kalimat-kalimat di atas. Intinya, manusia ya manusia. Mesin ya mesin. Kalo kita menyamakan konsep mesin yang sama-sama punya otak dengan manusia, artinya kita tak lebih dari sekedar mesin atau robot. Kita bisa saja kasih rule, netapin kode perintah pada si mesin. And poof, that machine is working. It did what we ordered. Simple kan? Karena mereka mesin bukan manusia yang menjalankan sesuatu melibatkan akal (red: otak), naluri dan perasaan. Itulah sebabnya, belum tentu suatu perintah yang berlaku pada robot bisa dijalankan pada manusia. Karena manusia bergerak melibatkan kombinasi dari beberapa aspek tadi. Sangat disayangkan rasanya jika rule yang dibuat manusia malah menjadikan manusia tak lebih dari sekedar robot. Bener kan ya?
Rule atau aturan yang saya maksud bisa berarti aturan dalam agama, adat istiadat, budaya dan fatwa dari manapun asalnya.

Ingat sekali lagi. Kita manusia bukan mesin loh ya. Jangan sampai rule yang ada malah mengekang kreativitas kita. Rule boleh ada tapi jangan sampai kebebasan yang sejatinya hak tiap individu malah diculik dan jadi korbannya.

Sekarang pertanyaan pun muncul. “Apakah kaum LGBT dapat memiliki ruang di muka bumi ini?”
Bagi yang gak tau LGBT itu apa, LGBT itu adalah singkatan. Singkatan dari Lesbian Gay Bisexual Transgender. Saya adalah kaum muslim jua seperti beberapa pembaca adanya. Tapi saya juga bukan islam yang tegas-tegas amat. Yang akan memusuhi malah berniat membunuh apalagi membakar kaum penganut LGBT. Sejujurnya saya juga bukan orang yang paham secara utuh tentang Islam. Saya juga seperti kebanyakan dari teman-teman yang ilmu ajaran Islam nya masih perlu dipoles lagi. Dan perlu teman-teman garis bawahi juga bahwa saya juga bukan kaum LGBT. Saya hanya menghargai keberadaan mereka dan menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berserikat.

Yasudah kita tinggalkan dulu topik tentang LGBT karena akan panjang nanti ulasannya. Mungkin di postingan berikutnya saya akan pelajari lagi dan telaah lebih dalam.

Senada dengan kata “berserikat” yang punya makna “berkumpul”, “berorganisasi”, “berpartai” dll, saya akan coba kasih opini saya mengenai satu kata penuh makna ini. Saya akan coba segamblang yang saya bisa. Yuk kita simak bareng-bareng dan mohon tinggalkan jejak atau komentar jika kalian suka atau ingin memberi saran🙂

Pagi yang cerah dan awan yang beriring lesu seakan menjadi saksi mati bagi setiap kunyahan dan tegukan sarapan yang saya kudap pagi ini. Tenang memang. Cukup tenang karena saya menyantap sarapan bersama secangkir kopi hitam di daerah pegunungan Kaliurang di Yogyakarta. Tak lama berselang setelah itu, ngaung beberapa motor Yamaha RX King memadati jalanan.
Seram dan sedikit anarkis kelihatannya. Telisik punya telisik, si akang yang punya Rumah Makan berseru bahwa ada pertemuan bulanan pemilik motor Yamaha RX King Jogja-Jawa Tengah. Mungkin itulah sebab mengapa gaung dari motor yang terbilang jadul ini tak henti-hentinya berhenti bergema sepanjang jalanan Jogjakarta.

Jika saya mau marah dan emosi, ya saya bisa bisa saja. Tapi ya bagaimana lagi. Jumlah mereka jauh lebih banyak dari pada saya yang hanya Mahasiswa Teknik Elektro UGM semester 9 ini. Pingin teriak dan memarah-marahi mereka jujur saya ingin sekali. Dan seratus persen saya yakin orang yang ikut menjadi korban ngaungan motor itu juga akan berseru hal yang sama. Tapi saya liat dari sisi yang lain. Sudut pandang yang berbeda.

Mereka punya jumlah massa yang lebih banyak, BETUL.  Mereka punya kekuatan yang lebih besar, BETUL. Mereka itu salah karena melakukan hal tersebut, BELUM TENTU BENAR.

Mengapa demikian? Karena tiap individu punya hak untuk berserikat dan punya program yang harus dijalankan bersama kelompoknya. Saya juga dulu begitu. Tapi tidak menjalankan program yang mereka lakukan di jalan seperti di atas. Dan tak bisa pula saya pungkiri bahwa tiap organisasi pingin “eksis” alias pingin menunjukan jati dirinya. Itu lah yang kurang lebih saya rasakan saat bergabung dengan beberapa organisasi yang saya ikuti.

Jangankan organisasi, taraf kepanitiaan saja juga melakukan hal yang sama. Saya kadang dengan vandalisnya menempelkan poster-poster liar di sepanjang tembok yang masih suci, di badan-badan tiang listrik yang masih bersih dan bahkan dengan bodohnya di trotoar jalan yang seharusnya tak dinodai. Tapi itu dulu dan saya yakin kalian yang aktif dikepanitiaan saat ini juga melakukan hal yang sama. Bukan tanpa sebab atau hanya sekedar pingin eksis, tapi saya dan kawan-kawan lakukan hal “nista” itu karena ingin acara yang kami persiapkan bareng tersebut sukses dan mendatangkan banyak massa yang ingin menontonnya.

Salahkah itu? Saya berani katakan tidak! Saya dan kawan-kawan sudah lakukan berbagai bentuk promosi entah itu promosi apapun. Tindakan vandalis itu hanya alternatif terakhir yang kami lakukan. Percayalah… itu hanya opsi terakhir yang kami lakukan.

Kembali ke cerita mas-mas dan mbak-mbak yang ugal-ugalan bersama Yamaha RX King nya tadi, saya tak akan tutup mata dengan kelakuan mereka. Mereka memang salah secara norma atau aturan yang ada. Tapi mereka adalah komunitas yang juga berhak bersuara dan menunjukan pada dunia bahwa komunitas yang mereka kibarkan pernah hadir dan mewarnai bumi ini. Mereka punya program promosi yang menurut mereka adalah yang paling baik saat ini. Yaitu dengan turun ke jalan sembari mengaum sekeras-kerasnya.

Saya juga tak bisa menyalahkam mereka karena saya juga pernah muda🙂 Hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s