TUTUP mata, hati dan telinga

Kukira sudah cukup lama aku tak membuka laman facebook ku, malah aku sudah lupa kapan terakhir kali aku membuka twitter si burung biru itu. Jangan pernah tanya apa itu friendster padaku. Karena aku cukup yakin banyak yang sudah meninggalkan aplikasi itu. Aku punya banyak cerita kurang mengenakan dengan aplikasi path. Hingga beberapa kali aku berniat untuk tidak menggunakannya lagi. Tapi niat itu timbul tenggelam timbul tenggelam seperti chord nada pada nyanyian kehidupanku. Beberapa kali aku punya kasus dengan aplikasi berkulit merah tersebut. Hingga beberapa minggu yang lalu aku ikhlas meninggalkannya.

Aku rasa aku cukup aman awalnya dengan kehilangan beberapa social media tersebut. Tapi tidak juga. Instagram yang kelihatannya fine fine saja ternyata juga punya cerita.

Umur ku yang terbilang sudah beranjak dewasa tak bisa ditutupi dari semua mata. Teman-temanku yang sudah berpikiran cukup maju dariku akhirnya memutuskan niat mulia untuk menikah dengan teman dekatnya, teman kantornya, teman SD yang entah mengapa ketemu dimana, teman seperjuangan saat kuliah dll. Pernikahan ternyata bukan hanya sebuah agenda sakral yang dibagi kebahagiaannya pada rakyat sekitar. Dunia wajib tahu!

Jepret! Jepret! Jepret! Publish!

Foto foto kebahagiaan itu mentreng di layar LCD hapeku dan juga hape yang lain. Sedih, senang, takjub, kaget, bangga dan juga haru seakan dicampur gado-gado. Entah apa jadinya. Tapi yang pasti berakhir dengan rasa hambar.

Hal ini bukan sekali dua kali aku lihat di instagram. Momen yang digadang gadang sebagau kebahagiaan itu ternyata membekas pilu pada diriku.

Waw mereka sudah dewasa. Mereka jauh di depan. Aku tertinggal di belakang. Aku kapan nyusul? Aku kapan? Kapan? Kapan????

Sakit memang ketika menyadari bahwa teman seperjuangan yang dulu sepertinya biasa-biasa saja kini sudah berdasi dan punya beberapa bawahan. Malah punya mobil mersi dan menikmati bulan madu di pulau seribu. Beberapa sudah bisa beli apartement sendiri dan punya anak yang lucu-lucu.

Jujur aku sangat kaget dan seakan ingin rasanya membanting hape ini tapi apalah daya aku tak mau mengeluarkan uang untuk biaya reparasi atau malah beli lagi. Pikiranku untungnya masih waras dan bisa berpikir cukup jernih. Akhirnya aku beberapa kali mencoba uninstall instagram. Tapi lalu kangen dan install kembali, eh momen bahagia itu bukannya malah berkurang tapi bertambah. Dan akhirnya aku putuskan untuk benar-benar meninggalkan social media yang hanya membawa luka.

Biarkan aku menjadi orang udik dan tak tahu perkembangan teman-temanku. Rasanya lebih bahagia jika aku menghadapi dunia yang benar-benar nyata ada di depan ku. Tanpa harus terpengaruh oleh isu-isu dan cerita bahagia teman-temanku di luar sana. Toh aku juga tak menggapai tangan mereka, toh aku juga tidak hidup bersama mereka, toh aku juga begini-begini aja.

Yang ada malah aku iri karna tahu “rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput halamanku sendiri”.

Sepertinya hidup memang sudah seharusny begitu kawan.

Beberapa dari kita akan bertemu orang baru, bercengkrama untuk beberapa waktu, lalu bersiap melangkah meninggalkan yang lama dan menjalani hidupnya masing-masing dengan orang yang baru.

Life is all about meet and greet and then gone. Then meet again.

Yap, I think it’s better for me to live like this. No one will notice and no one will ask either.

Hidupku hidupmu. Semoga kita sama sama bahagia di ujung cerita nanti. Entah pada akhirnya ada yang jadi manager, menteri atau apalah itu namanya, tempat kita akan sama pada akhirnya.

“KUBURAN”

 

Dan terakhir, mungkin aku mau ngutip salah satu quote dari seorang youtuber, Reza Arap Oktovian.

Everyone has their own time zone. People around you might seem ahead of you & some to be behind you. But everyone is running their own race, in their own time. Don’t envy them or compare it to yourself. They are in their own time zone and you are in yours. Don’t worry too much. You are not late. Yet, You are not early.

Setiap orang punya zona waktunya masing-masing. Teman-teman atau orang disekitarmu mungkin terlihat lebih maju dan beberapa mungkin malah masih stuck di belakangmu. Tapi intinya adalah setiap orang, setiap manusia berlari pada pertandingannya masing-masing, pada zona waktunya sendiri-sendiri. Jadi, jangan cemburu pada mereka dan membandingkannya dengan dirimu. Mereka memang sedang berada di zona waktunya seperti kamu di zona waktumu. Jangan terlalu dipikirkan. Kamu pada kenyataannya bukan terlambat. Kamu hanya kurang curi start.

= Reza Arap Oktovian =

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.