Sesak akan kaum Sarjana

Pagi itu pukul 7 teng, kakiku suda mendarat di salah satu laboratorium klinik di Yogyakarta. Bukan pertama kalinya aku melakukan medical check up untuk sebuah perusahaan. Sehingga rasa bimbang dan gugup itu seakan sudah lumat dengan sendirinya. Untuk ketiga kalinya aku berhadapan dengan laboratorium di Jogja.

Beberapa yang hadir sudah tua renta. Mungkin mereka bermaksud untuk melakukan tes kesehatan rutin berhubung sudah waktunya. Dari deretan antrian samar-samar kulihat seorang lelaki yang masih terbilang muda. Sedikit merasa syukur karena yang muda ternyata bukan aku seorang. Anggap saja saya muda walau usia sudah menginjak kepala dua. Lima tahun lagi malah genap sudah kepala tiga. Jangan tanyakan padaku sudah berapa banyak teman seangkatan yang memutuskan menggenapkan agamanya (red : menikah), atau sudah berada di level managerial. Yaa, saya tua tapi juga muda. Ah sudahlah…

Rasa penasaran pun makin menggunung hingga terlontarlah ucapan tanya.

“Masnya medcheck untuk perusahaan apa?”

Pemuda yang tak jauh dari deretan kursiku itu pun menjawab “XL Axiata mas”

“Wah keren ya. Untuk posisi apa mas kalo boleh tau?”

“Customer Service mas”

Sontak aku sedikit kaget. Karena untuk posisi CS ternyata ada tes medical check up segala. Itu kali pertama aku baru mengetahuinya. Obrolan pun bergulir begitu saja hingga pada akhirnya aku mengetahui bahwa mas yang aku ajak bicara itu adalah seorang alumni perguruan tinggi negri beken di Jogja. Seorang sarjana S1 yang sedang mencari kerja.

Masih bergulir di dalam benakku beberapa deretan tanda tanya.

Bagaimana bisa seorang sarjana pada akhirnya memutuskan untuk.menjadi seorang Customer Service. Karena dalam benak awamku, posisi sedemikian rupa adalah peruntukan lulusan SMA.

Terlepas dari itu semua. Dalam posisi ini aku tak berhak menghakimi. Tapi izinkan aku untuk memberikan sedikit opini dalam deretan tulisan ini.

Apa yang salah dalam pendidikan kita akhir-akhir ini? Banyaknya lulusan yang pada akhirnya murtad. Murtad dalam kasus ini adalah bekerja di tempat atau departemen yang tidak sesuai dengan jurusan yang ia ambil saat kuliah.

Mari kita ambil contoh. Belakangan ini rendahnya harga minyak menjadi imbas dari penutupan beberapa kilang minyak di nusantara. Sehingga ribuan pekerja minyak dan gas terpaksa dirumahkan bahkan beberapa di pensiun dinikan. Malangnya beberapa lulusan sarjana Teknik Perminyakan, Teknik Geologi, Teknik Geodesi, dan teknik lainnya yang serumpun seakan kehilangan sumber mata pencariannya. Beberapa di antara mereka memilih stay dan menunggu harga minyak naik kembali, beberapa berinisiatif melanjutkan studi dan beberapa di antaranya malah mencoba banting stir ke ranah non perminyakan bahkan non teknis.

Sebegitu gelapkah kesempatan untuk dapat bekerja di ranah yang tepat? Sempat terdengar di telingaku beberapa lulusan teknik geologi malah banting stir ke dunia retail mini market, beberapa jadi sales, dan bahkan bekerja di bank.

Bukannya salah untuk mendulang rezeki di tempat lain. Tapi ini fakta bahwa proyeksi masa depan memang tak secerah di awal ketika memutuskan lanjut ke jenjang perkuliahan.

Alangkah celakanya lagi adalah beberapa di antara mahasiswa yang sedang menempuh studi di universitas negri maupun swasta bahkan tidak mengerti dengan apa yang sedang mereka pelajari. Seorang sarjana IT di semester 7 bahkan tidak tau cara memrogram sebuah web sederhana. Saat ditanya mengapa, alasan sederhana yang sebetulnya sangat kurang tepat pun muncul.

“Saya kayanya salah jurusan. Tapi udah mau lulus. Tanggung juga kalo harus ngulang lagi”

Lontaran ini muncul dari mulut seorang sarjana yang 1 semester lagi akan menggandeng gelar sarjana. Celaka bukan?

Apasih yang salah dari semua ini? Jawaban salah jurusan ini ternyata tidak keluar dari satu, dua mulut mahasiswa. Tapi ratusan bahkan mungkin ribuan.

Jika jawaban salah jurusan ini bisa direka ulang sebabnya, maka guru adalah pemegang tanggung jawab terbesar dalam decision making setiap calon mahasiswa baru di negri ini.

Berapa banyak guru yang bisa membedakan apa itu geodesi, geologi, geofisika, dan geo-geo yang lain? Seberapa banyak guru yang bisa memberi jawaban yang tepat kepada para siswa kelas 3 SMA yang sedang galau memilih jurusan?

Beberapa di antara mereka memilih lepas tangan dan mempercayakan lembaga psikologi untuk memberi gambaran pada calon mahasiswa yang ada. Jika boleh memberi saran, Apa tidak sebaiknya para alumni SMA yang telah lulus atau sedang menempuh jenjang perkuliahan memberi gambaran pada adik-adiknya tentang jurusan yang ada di universitas dan gambaran masa depan dari setiap pilihan?

Karena nyatanya merekalah yang lebih dekat dengan dunia kampus dibanding tim psikolog yang hanya tau beberapa hal dari setiap bidang. Sehingga diharapkan tidak ada lagi yang berdalih salah jurusan.

Dari sebuah berita terpercaya di lini website UGM, mengatakan bahwa “SBMPTN 2016 terima 99.223 mahasiswa baru.”

Unik dan cukup menggelitik jika dibaca. Ini baru dari jalur SBMPTN loh. Bagaimana dengan jalur yang lain? Ini baru perguruan tinggi negri loh. Bagaiman dengan perguruan tinggi swasta yang juga menerima ratusan bahkan mungkin ribuan mahasiswa baru?

Dengan anggapan bulat 100ribu saja yang diterima se Indonesia, artinya akan ada ribuan mahasiswa yang diberikan gelar sarjana setiap kuartalnya.

Berkaca dari data bulan Mei tahun 2008 yang lalu, UGM saja bisa menelurkan 1.494 wisudawan dalam satu kali periode. UGM saja melakukan prosesi wisuda sebanyak 4 kali dalam setahun. Kebayang gak berapa jumlah mahasiswa yang dianugerahi toga setiap tahunnya? UGM saja sudah segitu banyaknya. Belum dengan Universitas lainnya di Indonesia.

See? Banyak juga ya yang jadi sarjana? Efek domino dari lulusan yang ribuan ini adalah ribuan pengangguran yang dicetak oleh univeristas di nusantara. Ribuan yang jadi mahasiswa dan masuk ke kampus ternama, ribuan pula yang dicetak menjadi pengangguran muda.

Apakah perusahaan di Indonesia sedikit? Apakah Job Fair di Indonesia jarang diadakan? Jawabannya tentu tidak. Yang buka lowongan justru banyak tapi yang terserap ya segitu-segitu aja. Beberapa komentar dari rekruiter tentang para jobseeker adalah sangat umum. “Kami mencari tenaga yang siap kerja tapi sayangnya kampus mencetak generasi yang siap training”.

Ada miss yang tercipta antara kebutuhan dan hasil cetakan. Beberapa dari kampus bahkan tidak mensaratkan mahasiswanya memiliki kemampuan berbahasa inggris yang fasih. Malah dalam kurikulum pun, mata kuliah bahasa inggris seakan jadi pelengkap diantara sks-sks yang lain. Kalo mau fasih ya les di luar kampus saja. Seakan berbahasa inggris cuma sebagai keinginan bukan kebutuhan. Padahal kita hidup di era Masyarakat Ekonomi Asia dan bahkan ekonomi global dimana bahasa yang mempersatukan adalah bahasa inggris itu sendiri. Apakah wisudawan negri ini siap dalam menghadapinya? Who knows.

Jika cetakan perguruan tinggi tiap tahunnya tak terserap efektif di dalam negri, kesempatan untuk berkarir di luar negri sepertinya hanya akan jadi angan.

Padahal ironisnya beberapa diantara perusahaan dalam negri mensaratkan calon pelamar fasih berbahasa inggris. Kita baru bicarakan satu mata kuliah belum mata kuliah yang lainnya.

Mungkinkah kriteria pelamar yang tidak fit ini akan menjadi mimpi buruk kita semua? Mari kita saksikan bersama.

Seperti deretan angka yang sudah dipaparkan sebelumnya, angka yang cukup fantastis ini menggambarkan perkembangan intelektualitas bangsa. Dulu jika mau menjadi teller bank bisa bermodalkan ijazah SMA. Sekarang jangan harap. Wajib seorang sarjana. Bagaimana tidak, jumlah sarjana muda begitu banyaknya. Sangat gampang ditemukan dan gampang pula menyaringnya. Dulu lulusan sarjana gengsinya bukan main. Tapi sekarang? Sarjana dimana-mana!

Terlepas dari gampangnya menjadi seorang sarjana, masuk ke perguruan tinggi adalah hal yang semudah membalikkan tangan. Seperti keharusan bahwa setelah lulus SMP, yaa wajib lanjut SMA. Begitu pula yang terjadi saat ini. Lulus SMA, ya wajib dan harus bergelar sarjana.

Hingga perguruan tinggi dimana pun di Indonesia menawarkan paket masuk yang beraneka ragamnya. Tak lulus di satu jalur, bisa coba jalur yang lain, dan begitu seterusnya. Jika tak bisa masuk perguruan tinggi A, perguruan tinggi B bisa menampung dengan prasyarat yang lebih gampang walau sedikit mahal. Seakan syarat untuk masuk universitas hanya sebatas berkas. Dokumen A, B, C lengkap, welcome everybody!

Mungkin suatu saat nanti prasyarat yang sangat gampang bisa ditemukan bagi yang ingin lanjut S2. Dan boom! Bertebaranlah ribuan sarjana S2 di seantero negri ini.

Lebih ironi lagi adalah sebuah pernyataan yg ternyata tidak keluar dari satu dua mulut mahasiswa :

Gpp gak masuk PTN, Gpp dapat jurusam yang gak sesuai hati, yang penting kuliah kaya temen-temen yang lain.

Mungkinkah nanti setelah lulus bakal.bingung mau kerja dimana karena proyeksi masa depan tidak dilakukan sedari dini.

Silahkan baca berita dari detik dot com berikut tentang mahasiswa yang sudah lulus tapi gak tau harus jadi apa : klik berita ini.

Penting memang dibutuhkan perencanaan yang matang dalam menentukan masa depan. Tidak hanya dalam memilih jurusan atau fakultas atau perguruan tinggi saja. Jangan karena ikut pacar kuliah disana, maka kuliah disana juga. Jangan karena teman satu daerah atau satu SMA pada nimbrung dan kuliah di satu tempat, eh kitanya juga ikut-ikutan.

Kuliah itu bukan untuk ikut-ikutan atau ajang bangga-banggaan. Atau yang penting kuliah aja deh kaya yang lain.

Karena kuliah bukan untuk sok-sokan atau sekedar lifestyle. Tapi proses 4 tahun lebih untuk penentu masa depan. Makanya persiapan adalah kunci utama disini

Selain itu, masih minimnya pengetahuan mahasiswa tentang persiapan karir adalah PR tersendiri bagi tiap jurusan, fakultas bahkan universitas. Pasca kelulusan adalah momok tersendiri bagi beberapa mahasiswa. Mau kerja dimana, mau kerja yang seperti apa, atau mau kerja dengan gaji berapa. Walau pada akhirnya si pelamar sudah tau arah tujuan masa depannya, ketidaksiapan adalah momok tersendiri yang menghiasi beban pikirannya.

Saat datang ke stand karir malah baru tau apa itu yang namanya CV (Curriculum Vitae), baru tau step-step apa saja yang harus dilalui nanti hingga sign contract dilakukan dan malah celakanya baru tau kalo ada perusahaan seperti itu di Indonesia. Beberapa malah belum tau jenis-jenis perusahaan yang ada. Tidak tau apa itu FMCG, Oil and Gas Industry, Oil and Gas Services, Kontraktor, teknisi dll.

Kurangnya pengetahuan akan persiapan ini adalah bom atom tersendiri bagi calon lulusan muda. Ada yang malah pas lulus baru merancang CV. Dan itu pun sudah banyak yang lupa apa saja yang pernah dilakukan di kampus. Sudah mengawang apa saja seminar yang diikuti, orginasasi apa yang dihandle atau kepanitiaan apa yang pernah diterjuni. Kalo pun ada yang ingat, format CV pun amburadul sekali alias tidak sesuai formatnya.

Semoga lack of career preparation ini tidak terjadi lagi. Sekiranya di awal masa orientasi mahasiswa baru, para mahasiswa dibekali dengan ilmu semacam ini. Agar nanti ketika lulus sudah tidak kaget lagi. Intinya persiapan dan kemauan.

Sambil menyelam minum air, saya juga tidak ingin mengomentari terus-terusan tentang kebobrokan ini, berikut sedikit banyak buah tangan bagi yang ingin mempersiapkan diri :

Klik link berikut untuk melihat tulisan tentang :

Career Preparation (PSIKOTEST)

TULISAN-TULISAN LAIN UTK PERSIAPAN KARIRMU

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, disini saya hanya menyampaikan opini. Saya pribadi tak khilaf dari cela dan nista. Bagi yang kurang berkenan, ayuk kita diskusi!

Kolom komentar terbuka bagi siapa saja🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s