Jangan lupa ashar ya pak

Butir demi butir nasi pada akhirnya habis jua. Piring putih itu kembali putih tanpa noda. Siang yang mulai memudar tampak dari langit yang mulai menguning. Makan siang itu aku tutup dengan hamdalah seperti biasanya. Rumah makan ini sudah tidak asing bagiku karena hampir setiap hari aku bertamu dan menghabiskan jatahku.

Tak jauh dari tempatku mengisi perut ada sebuah masjid besar yang megahnya tak usah ditanya. Air putih yang hampir habis aku teguk dengan percuma. Seketika pula azan ashar pun berkumandang. Aku pun bergegas mengakhiri makan siang itu dan segera ke tempat parkir. Tak asing lagi bagiku senyum renta yang masih terlukis di wajah si bapak yang dengan semangatnya menjaga tempat parkir.

Aneh memang. Hampir setiap hari aku berjumpa tapi tak pernah saling mengenal. Tapi sangat akrab dengan hanya saling melempar senyum.

Tanpa sengaja uang koin seribu itu terjatuh dari tangan ini ke permukaan tanah saat akan melimpahkannya kepada beliau. Sontak si bapak kaget dan beristigfar.

“Astagfirullah… Tak papa mas. Saya yang ambil” sebutnya saking kagetnya.

Disana pula aku baru menyadari bahwa si bapak adalah seorang muslim.

Selayaknya orang sakit yang minum obat tiga kali sehari, seperti itu pula lah aku memberi koin demi koin kepada beliau.

Tanpa ingin berprasangka apa-apa, belum pernah aku melihat si bapak shalat di masjid yang bersebrangan dengan tempat duduknya. Karena hampir setiap hari aku menyambangi masjid itu untuk bersama-sama sujud kepada-Nya. Belum pernah pula aku melihat orang lain selain beliau yang memarkirkan tiap kendaraan yang masuk dan keluar tempatnya. Beliau adalah seorang petarung sejati tanpa tergantikan. Mustahil kiranya jika si bapak harus pergi beberapa saat dan meninggalkan area kekuasaannya. Karena hampir tiap menit beberapa kendaraan masuk dan keluar dengan cepatnya. Tanpa beliau, tak terbayangkan lagi akan sekacau apa tempat itu. Beliau memang patut diacungi jempol karena ketangguhan dan kemandiriannya.

Aku seketika takjub melihat perjuangannya mencari koin demi koin seorang diri. Tapi di satu sisi aku turut berduka dengan ketangguhan dan kesendiriannya tadi. Akankah si bapak punya waktu untuk sujud pada-Nya? Akankah si bapak punya waktu untuk menanggapi panggilan-Nya. Lima kali dalam sehari ia pasti mendengar suara panggilan-Nya. Tapi apakah mungkin ia bisa beranjak dari kursinya dan meninggalkan tanggung jawabnya?

Ya begitulah adanya. Tak hanya beliau saja yang jika dikadar oleh beberapa orang merupakan pekerjaan sebelah mata. Banyak juga teman-teman kita yang bahkan sudah disediakan tempat sembahyang di kantornya masih saja malas meninggalkan kursinya semenit dua menit untuk menunaikan kewajibannya.

Yang punya waktu dan juga kebebasan untuk shalat pun masih saja malas dan menganggap remeh panggilan-Nya. Bukankah itu sebuah hadiah atas kebebasan yang bisa diraih. Kalian punya waktu loh…

Masih banyak di luar sana sahabat-sahabat kita bahkan bertaruh nyawa di medang perang dan masih menyempatkan diri sembahyang bersama. Semenit dua menit lengah, nyawa adalah taruhannya. Tapi mereka masih saja menyempatkan diri untuk menunaikan kewajiban yang ada. Apa perlu sebuah pisau diarahkan tepat ke leher kalian agar mau menunaikannya?

Mari kita berkaca diri…

Tanpa maksud apa-apa, aku pun mencoba mengingatkan si bapak yang sudah renta.

“Nuwun pak. Oya, jangan lupa ashar ya pak. Assalamualaikum”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s