menjadi DEWASA

Menjadi dewasa itu menyeramkan. Tapi juga sebuah harapan.

Menjadi dewasa itu adalah sebuah kepastian walau bukan jaminan.

Menjadi dewasa itu adalah sebuah kepribadian bukan hanya sebatas usia.

Kalimat di atas adalah gambaran ketika sebuah kedewasaan datang untuk dimiliki bukan dihindari. Tumbuh kembang menjadi seorang pria yang dulunya hanya seorang bocah adalah suatu kejadian alami.

Asyik bermain bersama teman di lapangan terbuka adalah satu-satunya hal yang terpikirkan bagi seorang bocah yang sedang lincah-lincahnya. Tak kan terpikirkan baginya untuk mengelola keuangan pribadi, mencoba mendalami investasi, mempelajari KPR atau bersanding pelaminan dengan sang calon istri.

Menjadi dewasa adalah sebuah beban yang memang wajib dipikul setiap orang. Dulu yang hanya berpikir dan sibuk dengan satu hal, lama kelamaan menumpuk dan menjadi gunung.

Dulu yang dengan koboinya mengambil keputusan, sekarang harus inisiatif membuat ribuan rencana dengan segala resiko yang ada. Pemikiran yang awalnya sangat awam, kini bercabang kemana-mana.

Sedih memang melihat satu persatu teman karib yang dulu main bersama, berbagi tempat tidur bersama, malah memutar tali perhutangan bersama, kini menjadi pria dewasa yang telah meminang gadis tercinta. Sedih tapi juga senang. Begitu tepatnya.

Satu persatu dari karib terdekat menginjak titik settle nya dan memutuskan untuk lanjut ke tahap kehidupan yang lebih lanjut.

Menjadi dewasa memang bukan tentang usia tapi tentang cara kita menyikapi hal yang ada. Mencoba untuk tetap ikhlas dan bersabar agar bisa mengejar semua ketertinggalan adalah salah satunya.

Mencoba untuk tetap tersenyum dalam setiap perpisahan dan setiap penghianatan.

Yaa, hidup tak pernah mengajarkan kita untuk bisa meraih segala hal, mendapatkan semua cita-cita, atau menggapai semua asa. Seketika kita lepas dari satu hal dan itu sakit, Tuhan dengan indahnya menggantikan mereka dengan sesuatu yang baru dan lebih baik. Betapa hebatnya sang maha Pengatur takdir.

Hidup memang keras tapi indah di mata kedewasaan. Hidup mengajarkan kita untuk siap melepaskan dan siap sedia untuk memberi kata sambutan. Tak kan mungkin semua yang kita mimpikan akan tetap berada dalam genggaman. Karena semua ada kapasitasnya, karena semua yang dilepas akan digantikan dengan yang hadir.

Manusia memang boleh berencana tapi Tuhan adalah sang penentu ujung eksekusinya. Kita sebagai hamba hanyalah sang perencana dan sang eksekutor handal dari drama yang tercipta. Dan ingat, semua perencanaan butuh kedewasaan. Karena dengan kedewasaan kita akan lebih matang dalam mencapai ambang kesuksesan dan lebih ikhlas dalam menerima kegagalan. Dan dengan kedewasaan pula kita akan menjadi seorang yang tak mudah putus asa dan menyerahkan takdir sebagai mana mestinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s