Dia suka ama suara merdumu

[REPOST from Ananda Trisnadi]

 Kisah dari salim Al Fillah.

bittersweet-symphony-notes

Seorang kawan bertanya dengan nada mengeluh.

 

“Di mana keadilaan Allah?”, ujarnya.

“Telah lama aku memohon dan meminta padaNya satu hal saja.

Kuiringi semua itu dengan segala ketaatan padaNya.

Kujauhi segala laranganNya.

Kutegakkan yang wajib.

Kutekuni yang sunnah.

Kutebarkan shadaqah.

Aku berdiri di waktu malam.

Aku bersujud di kala Dhuha.

Aku baca kalamNya.


Aku upayakan sepenuh kemampuan mengikuti jejak RasulNya.

Tapi hingga kini Allah belum mewujudkan harapanku itu.


Sama sekali.”

 

Saya menatapnya iba. Lalu tertunduk sedih.

 

“Padahal”, Lanjutnya sambil kini berkaca-kaca,

“Ada teman lain yang aku tahu ibadahnya berantakan.

Wajibnya tak utuh. Sunnahnya tak tersentuh.

Akhlaknya kacau.

Otaknya kotor.

Bicaranya bocor.

Tapi begitu dia berkata bahwa dia menginginkan sesuatu, hari berikutnya segalanya telah tersaji.

Semua yang dia minta didapatkannya.

Dimana keadilan Allah?”

 

Rasanya saya punya banyak kata-kata untuk menghakiminya.

Saya bisa saja mengatakan,

“Kamu sombong. Kamu bangga diri dengan ibadahmu.

Kamu menganggap hina orang lain.

Kamu tertipu oleh kebaikanmu sebagaimana iblis telah terlena!

Jangan heran kalau do’amu tidak diijabah.

Kesombonganmu telah menghapus segala kebaikan.

Nilai dirimu hanya anai-anai berterbangan.

Mungkin kawan yang kau rendahkan jauh lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah karena dia merahasiakan amal shalihnya!”

 

Saya bisa mengucapkan itu semua. Atau banyak kalimat kebenaran lainnya.

 

Tapi saya sadar. Ini ujian dalam dekapan ukhuwah.

Maka saya memilih sudut pandang lain yang saya harap lebih bermakna baginya daripada sekedar terinsyafkan tapi sekaligus terluka.

Saya khawatir, luka akan bertahan jauh lebih lama daripada kesadarannya.

 

Maka saya katakan kepadanya,”Pernahkah engkau didatangi pengamen?”

 

“Maksudmu?”

 

“Ya, pengamen,” lanjut saya seiring senyum.

“Pernah?”

 

“Iya, pernah.” Wajahnya serius. Matanya menatap lekat-lekat.

 

“Bayangkan jika pengamennya adalah seorang yang berpenampilan seram, bertato, bertindik, dan wajahnya garang mengerikan. Nyanyiannya lebih mirip teriakan yang memekakkan telinga. Suarangnya kacau, balau, sengau, parau, sumbang, dan cemprang. Lagunya malah menyakitkan ulu hati, sama sekali tak dapat dinikmati. Apa yang akan kau lakukan?”

 

“Segera ku beri uang”, jawabnya,

“Agar segera berhenti menyanyi dan cepat-cepat pergi.”

 

“Lalu bagaimana jika pengamen itu bersuara emas, mirip sempurna dengan Ebiet G. Ade atau Sam Bimbo yang kau suka, menyanyi dengan sopan dan penampilannya rapi lagi wangi, apa yang kau lakukan?”

 

“Kudengarkan, kunikmati hingga akhir lagu,” dia menjawab sambil memejamkan mata, mungkin membayangkan kemerduan yang dicanduinya itu.

“Lalu kuminta dia menyanyikan lagu yang lain lain. Tambah lagi. Dan lagi.”

 

Saya tertawa.

 

Dia pun tertawa.

 

“Kau mengerti kan?” tanya saya.

“Bisa saja Allah juga berlaku begitu pada kita, para hambaNya.

Jika ada manusia yang fasik, keji, mungkar, banyak dosa, dan dibenciNya berdoa memohon padaNya, mungkin akan Dia firmankan kepada malaikat : “Cepat berikan apa yang dia minta. Aku muak mendengar ocehannya. Aku benci menyimak suaranya. Aku risi mendengar pintanya!”

 

“Tapi,” saya melanjutkan sambil memastikan dia mencerna setiap kata,

“Bila yang menadahkan tangan adalah hamba yang dicintaiNya, yang giat beribadah, yang rajin bersedekah, yang menyempurnakan wajib dan menegakkan sunnah; maka mungkin saja Allah akan berfirman pada malaikatNya :”Tunggu! Tunda dulu apa yang menjadi hajatnya. Sungguh Aku bahagia bila diminta. Dan biarlah hambaku ini terus meminta, terus berdo’a, terus menghiba. Aku menyukai do’a-doanya. Aku menyukai kata-kata dan tangis isaknya. Aku menyukai khusyu’ dan tunduknya. Aku menyukai puja dan puji yang dilantunkannya. Aku tak ingin dia menjauh dariKu setelah mendapat apa yang dia pinta. Aku mencintaiNya”

 

“Oh ya?” matanya berbinar.

“Betul demikiankah yang terjadi padaku?”

 

“Hmmm…. Pastinya aku tak tahu,” jawab saya sambil tersenyum.

Dia agak terkejut. Segera saya sambung sambil menepuk pundaknya,

“Aku hanya ingin kau berbaik sangka”

 

Dan dia tersenyum. Alhamdulillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s